Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Reksa Dana Campuran Jadi Opsi Investasi di Masa Pandemi, Trimegah Beberkan Keunggulannya

Direktur Utama Trimegah Asset Management Antony Dirga mengatakan komposisi reksa dana campuran yang tidak mengharuskan minimum investasi pada saham sebesar 80 persen menjadikan investasi terselamatkan karena bersifat fleksibel dan adaptif.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 21 Agustus 2021  |  06:10 WIB
Reksa Dana Campuran Jadi Opsi Investasi di Masa Pandemi, Trimegah Beberkan Keunggulannya
ilustrasi investasi reksa dana
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Reksa Dana Campuran menjadi instrumen investasi yang absolut di masa pandemi di tengah kondisi ekonomi yang fluktuatif.

Direktur Utama Trimegah Asset Management Antony Dirga mengatakan komposisi reksa dana campuran yang tidak mengharuskan minimum investasi pada saham sebesar 80 persen menjadikan investasi terselamatkan karena bersifat fleksibel dan adaptif.

Menurutnya, dengan kondisi ekonomi terkait pandemi selama dua tahun terakhir ini memperpanjang konsolidasi yang terjadi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sehingga sudah empat tahun lamanya tidak bergerak ke mana-mana.

"Stabil di satu sisi. Cuma indeks saham yang kita harapkan rata-rata naik per tahun ternyata malah stagnan. Indeks LQ45 malah lebih parah, delapan tahun tidak ke mana-mana," katanya melalui keterangan resmi, Sabtu (21/8/2021).

Kondisi tersebut, lanjutnya, membuat fund manager atau manajer investasi tertantang untuk memilih instrumen investasi lebih cermat dan mengalahkan pasar. Di Trimegah AM, tuturnya, perspektif lama yang selalu mengacu pada indeks tertentu kemudian diubah, dan timbul ide untuk melebarkan dan mengambil pemdekatan yang lebih fleksibel. Langkah yang diambil adalah dengan mengambil platform paling fleksibel yang diizinkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yaitu reksa dana campuran.

Dia menjelaskan, RD Campuran membolehkan 1 hingga 79 persen per tipe instrumen, bebas bergerak, fleksibel dan adaptif. Hal itu dimungkinkan untuk menghadapi pasar yang volatil sehingga hadirlah Reksa Dana Campuran Trimegah Balanced Absolute Strategy (BASTRA).

BASTRA diluncurkan 2,5 tahun yang lalu. Sejak BASTRA dikeluarka, kinerja kumulatif yang dihasilkan hampir 60 persen di saat kinerja IHSG secara kumulatif dalam kondisi minus hampir 5 persen. Ketika IHSG tidak bergerak, BASTRA justru mampu menelurkan kinerja yang cukup baik.

Menurut Antony, di BASTRA, manajer investasi Trimegah fokus acuannya mengalahkan suku bunga deposito plus 5 persen dan bukan mengalahkan IHSG atau LQ45 seperti umumnya Reksa Dana Saham.

"Ketika kami fokus mengalahkan misal IHSG, kalau IHSG negatif minus 37, kami minus 20, maka kami sudah mengalahkan IHSG, akan tapi investor tetap tidak happy karena investor maunya return yang absolut, maunya positif. Perspektif ini yang berbeda di BASTRA, kami ganti objective-nya untuk mengalahkan suku bunga deposito plus 5 persen. Nah ternyata menarik, dan hasilnya berbeda," jelasnya.

Dia menambahkan manajer investasi Trimegah dalam membeli saham juga memastikan bahwa saham tersebut dibeli berdasarkan target return yang positif, bukan karena saham tersebut memiliki bobot tertentu di indeks saham.

Sebaliknya, jika ada proyeksi bahwa IHSG tidak akan bergerak untuk sementara waktu, maka dana yang ada bisa diinvestasikan secara fleksibel pada instrumen obligasi atau pasar uang sehingga diharapkan bisa tetap menghasilkan return yang positif untuk produk Reksa Dana Campuran BASTRA. Ini dilakukan sambil menunggu opportunity yang baik untuk kembali membeli saham yang prospektif.

Antony menyebutkan, pada 2020 kinerja BASTRA positif 22,9 persen sementara IHSG minus 5,1 persen. Hal itu terjadi karena manajer investasi Trimegah AM dapat bermanuever dengan fleksibel dan berhasil mengantisipasi situasi Covid-19 yang akan semakin parah di awal-awal masa pandemi terjadi.

Dia menceritakan pada Januari tahun lalu, fund manager melihat kondisi yang kurang baik, lalu memotong alokasi saham di portofolio hingga sekitar 20 persen. Saat pasar bergerak turun 37 persen, pihaknya juga turun saat itu, hanya saja tidak turun sebanyak 37 persen.

"Dan ketika kami melihat bahwa akan ada solusi untuk situasi pandemi ini, ada vaksin dan sebagainya, ketika near the bottom kita naikkan porsi saham di portofolio. Beberapa pilihan saham contohnya Antam di Desember 2020 yang bergerak naik hampir 70 persen. Ada juga saham Telkom yang dibeli di kuartal IV/2020 dan profit taking dilakukan pada awal Januari 2021," paparnya.

Antony menekankan fund manager BASTRA bekerja maksimal dalam mengelola dana investor. Fund manager dan analis selalu melakukan diskusi dan memantau data. Ketika membeli saham ataupun obligasi, harus ada tesis dan alasannya. Jika kemudian berdasarkan data yang baru ada tesis yang salah, fund manager tidak segan dan ragu-ragu untuk keluar. Ketika berinvestasi di BASTRA, investor cukup duduk tenang dan biarkan fund manager bekerja melakukan analisa dan juga alokasi aset secara proaktif.

Antony menyarankan kepada investor untuk melakukan due dilligence yang mendalam dalam memilih manajer investasi sehingga mereka bisa mengerti pendekatan dan strategi yang digunakan oleh manajer investasi tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

saham investasi reksa dana investasi reksa dana
Editor : Ropesta Sitorus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top