Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Prospek Pasar Obligasi Korporasi Semester II/2021 Dibayangi PPKM Darurat

Peningkatan risiko internal dan eksternal membuat emiten cenderung lebih selektif dan waspada sebelum melakukan emisi obligasi pada semester II/2021.
Direktur Utama Pefindo Salyadi Saputra ketika paparan dalam Pefindo Media Forum yang diadakan, Kamis (17/12/2020).
Direktur Utama Pefindo Salyadi Saputra ketika paparan dalam Pefindo Media Forum yang diadakan, Kamis (17/12/2020).

Bisnis.com, JAKARTA – Langkah tapering yang akan dilakukan The Fed dan lonjakan kasus positif virus corona membayangi prospek obligasi korporasi Indonesia pada semester II/2021

Direktur Utama Pefindo Salyadi Saputra menuturkan, prospek emisi obligasi korporasi pada semester II/2021 masih akan dibayangi oleh sentimen melonjaknya penyebaran virus corona di Indonesia. Hal ini akan menghambat proses pemulihan ekonomi Indonesia.

Hal tersebut juga ditambah dengan pemberlakuan PPKM Darurat sejak 3 Juli lalu. Menurut Salyadi, selain memperlambat pemulihan ekonomi, persepsi risiko investasi di Indonesia juga akan meningkat di mata para investor. Akibatnya, potensi serapan surat utang korporasi pun akan meniurun.

“Hal ini akan membuat korporasi berpikir dua kali sebelum melakukan emisi surat utang,” katanya dalam diskusi daring Pefindo, Kamis (8/7/2021).

Sentimen lain yang akan mempengaruhi outlook obligasi korporasi Indonesia adalah langkah tapering The Fed yang hingga kini belum jelas.

Salyadi menjelaskan, meskipun kebijakan tapering belum akan dilakukan pada tahun ini, risiko pada pasar obligasi korporasi akan tetap terlihat. Pasalnya, Investor telah memasang sikap waspada terhadap Indonesia menyusul lonjakan kasus positif virus corona beberapa waktu belakangan.

Kenaikan risiko pasar tersebut memicu terjadinya outflow dari pasar surat berharga negara yang akan turut berimbas pada kenaikan imbal hasil (yield) Surat Utang Negara (SUN).

“Akibatnya, yield dan kupon obligasi korporasi juga akan semakin tinggi,” jelasnya.

Ia melanjutkan, kenaikan risiko tersebut akan membuat emiten cenderung lebih selektif dan waspada sebelum melakukan emisi obligasi pada semester II/2021.

Salyadi mengatakan, kebanyakan perusahaan yang merencanakan emisi surat utang pada paruh kedua tahun ini bertujuan melakukan refinancing utang obligasi yang sudah ada.

Selain itu, perusahaan-perusahaan yang tidak memiliki opsi untuk meminjam ke bank juga akan tetap melakukan penerbitan surat utang pada tahun ini meski dibayangi potensi kenaikan risiko.

Selanjutnya, ia memperkirakan sektor perbankan dan multifinance tidak akan melakukan banyak emisi di sisa tahun ini. Pasalnya, sektor usaha tersebut masih memiliki tingkat likuiditas yang melimpah.

“Mereka masih sangat likuid, bahkan beberapa lembaga mengalami over likuiditas. Mereka menerima banyak dana pihak ketiga (DPK), tetapi penyaluran kreditnya tersendat,” imbuhnya.

Pada awal tahun ini, Pefindo memproyeksi penerbitan surat utang korporasi 2021 akan berada di kisaran Rp122 triliun hingga Rp159 triliun. Meski demikian, melihat kondisi pasar dan sentimen yang ada, Salyadi mengatakan Pefindo akan merevisi outlook ini dalam waktu dekat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper