Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Batu Bara Memanas, Begini Strategi Adaro (ADRO)

Sejauh ini tidak ada perubahan target rencana produksi yang telah ditetapkan oleh Adaro Energy.
Presiden Direktur PT Adaro Energy Tbk (Adaro) Garibaldi Thohir (kanan) didampingi Komisaris Independen Adaro Mohammad Effendi saat melaksanakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Adaro Energy Tbk (IDX: ADRO) Rabu (20/5/2020) di kantornya di Jakarta. Istimewa
Presiden Direktur PT Adaro Energy Tbk (Adaro) Garibaldi Thohir (kanan) didampingi Komisaris Independen Adaro Mohammad Effendi saat melaksanakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Adaro Energy Tbk (IDX: ADRO) Rabu (20/5/2020) di kantornya di Jakarta. Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten pertambangan PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) tetap mempertahankan target produksi batu bara sesuai rencana awal di tengah memanasnya harga batu bara.

Head of Corporate Communication Adaro Energy Febrianti Nadira mengatakan bahwa sejauh ini tidak ada perubahan target rencana produksi yang telah ditetapkan. Perusahaan juga akan fokus pada efisiensi serta keunggulan operasional.

“Masih sama [target produksi]. Fluktuasi harga batu bara tidak dapat kami kontrol. Untuk itu, kami fokus terhadap upaya peningkatan keunggulan operasional bisnis inti, meningkatkan efisiensi dan produktivitas operasi, menjaga kas, serta mempertahankan posisi keuangan yang solid,” katanya kepada Bisnis, Senin (5/7/2021).

Seperti diketahui, harga batu bara acuan (HBA) tercatat menembus US$115,35 per ton pada Juli 2021, naik US$15,02 per ton dari posisi Juni 2021 yang mencapai US$100,33 per ton. HBA Juli 2021 tersebut mencetak rekor tertinggi sejak Desember 2011 yang mencapai US$112,67 per ton.

Dia menambahkan, perseroan juga akan terus mengikuti perkembangan pasar dengan tetap menjalankan kegiatan operasi sesuai rencana di tambang milik perusahaan dengan terus focus mempertahankan margin yang sehat dan berkelanjutan.

Tahun ini, Adaro menargetkan produksi batu bara sekitar 52 juta—54 juta ton. Hingga kuartal I/2021, produksi batu bara perseroan turun 11 persen yoy menjadi 12,87 juta ton.

Penjualan batu bara di periode itu juga turun 13 persen yoy menjadi 12,59 juta ton. Penurunan tersebut disebabkan oleh adanya cuaca ekstrem yang dipengaruhi La Nina.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper