Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Saham ICBP Bisa Terangkat Pemulihan Konsumsi, Ini Rekomendasi Ciptadana

Ciptadana Sekuritas memperkiraan pertumbuhan pendapatan ICBP menjadi 5,4 persen pada 2021 dan 4,6 persen pada 2022 karena asumsi tidak ada hedging untuk penerbitan global bond senilai US$1,75 miliar pada 9 Juni 2021.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 28 Juni 2021  |  07:13 WIB
Kudapan Chitato menjadi salah satu andalan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP).
Kudapan Chitato menjadi salah satu andalan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP).

Bisnis.com, JAKARTA - Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia yang menunjukkan momentum positif dalam dua bulan terakhir serta pengurangan beban bunga utang dinilai mampu mengerek kinerja saham emiten Grup Salim, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP).

Analis Ciptadana Sekuritas Muhammad Fariz mengatakan, IKK tumbuh 10 poin menjadi 104,4 pada Mei 2021. Pihaknya melihat ini sebagai sinyal positif pemulihan konsumsi secara umum walaupun tantangan pandemi dan kenaikan harga komoditas dapat menghalangi pergerakan harga saham konsumer seperti ICBP.

“Namun, kami optimistis ICBP tetap dapat mengamankan marjin saat harga komoditas seperti minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) meningkat,” kata Fariz dalam riset terbaru, dikutip Bisnis Minggu (27/6/2021)

Sementara itu, ICB telah menyelesaikan penerbitan obligasi berdenominasi dolar AS senilai US$1,75 miliar dan mencatatkan obligasi di Bursa Efek Singapura pada 9 Juni 2021.

Dengan menggunakan kurs Rp14.105 per dolar AS pada 31 Desember 2021, maka perseroan mendapatkan dana senilai Rp24,68 triliun. Nilai tersebut merupakan sekitar 49,1 persen dari nilai ekuitas perseroan per akhir tahun lalu senilai Rp50,31 triliun.

Dana jumbo dari obligasi global ini akan digunakan ICBP untuk membiayai pembayaran dipercepat sebagian fasilitas pinjaman yang digunakan untuk akuisisi Pinehill pada 2020.

“Setelah penerbitan obligasi tersebut, kami mengubah beban bunga [ICBP] menjadi 3,86 persen dari 5 persen karena sebelumnya kami mengasumsikan biaya lindung nilai yang tinggi untuk obligasi sementara perseroan ternyata tidak akan memberikan hedging terhadap obligasi tersebut,” tulis Fariz.

Saat ini, Fariz mengasumsikan ICBP tidak akan memberikan lindung nilai (hedge) untuk obligasi berdenominasi dolar AS dan bunganya karena pembayaran pokok utang akan jatuh tempo pada 2031 dan 2051.

Pendapatan operasional dari Pinehill yang lebih dari US$100 juta sepertinya akan lebih dari cukup untuk membayarkan bunga dari surat utang tersebut.

Fariz pun menaikkan perkiraan pertumbuhan pendapatan ICBP menjadi 5,4 persen pada 2021 dan 4,6 persen pada 2022 karena asumsi tidak ada hedging yang dilakukan tersebut.

Ciptadana Sekuritas memberikan rekomendasi beli untuk saham ICBP dengan target harga Rp12.725. Target harga ini diberikan mengingat perkiraan pendapatan ICBP yang lebih tinggi dan CAGR penjualan sekitar 10 persen pada 2021-2023 didukung oleh kinerja Pinehill dan penjualan domestik. 

Di lantai bursa, saham ICBP diperdagangkan stagnan menjadi Rp8.025 pada akhir perdagangan Jumat (25/6/2021) dengan kapitalisasi pasar Rp93,59 triliun.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rekomendasi saham icbp grup salim
Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top