Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pengetatan Regulasi dan Mogok Kerja di Chile Topang Kelanjutan Reli Harga Tembaga

Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa (18/5/2021), harga tembaga terpantau menguat hingga 1,5 persen di level US$10.525 per metrik ton pada London Metal Exchange (LME).
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 18 Mei 2021  |  16:00 WIB
Gulungan kabel tembaga di pabrik Uralelectromed OJSC Copper Refinery yang dioperasikan oleh Ural Mining and Metallurgical Co. di Verkhnyaya Pyshma, Rusia, Selasa (7/3/2017). - Bloomberg/Andrey Rudakov
Gulungan kabel tembaga di pabrik Uralelectromed OJSC Copper Refinery yang dioperasikan oleh Ural Mining and Metallurgical Co. di Verkhnyaya Pyshma, Rusia, Selasa (7/3/2017). - Bloomberg/Andrey Rudakov

Bisnis.com, JAKARTA – Harga tembaga melanjutkan penguatannya mendekati level tertinggi. Hal ini terjadi seiring dengan potensi pengetatan regulasi dan pengenaan pajak yang lebih tinggi di Chile menimbulkan kekhawatiran terhadap outlook pasokan jangka panjang.

Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa (18/5/2021), harga tembaga terpantau menguat hingga 1,5 persen di level US$10.525 per metrik ton pada London Metal Exchange (LME). Komoditas yang dijuluki sebagai kompas perekonomian dunia tersebut mencatatkan rekor harga tertinggi sepanjang sejarah pada 10 Mei lalu sebesar US$10.747,50 per metrik ton.

Prospek pengetatan peraturan terkait aktivitas penambangan di Chile yang merupakan produsen tembaga terbesar di dunia menjadi katalis positif bagi penguatan harga tembaga.

Pemerintah Chile baru saja menetapkan majelis yang bertugas merancang konstitusi baru terkait pertambangan di Chile. Mayoritas anggota majelis tersebut berasal dari sayap kiri politik Chile yang memunculkan potensi pengetatan aturan di sektor lingkungan dan hak mineral.

Hal ini juga akan menambah momentum bagi perancangan undang-undang yang mengatur salah satu pajak mineral terbesar di dunia.

Kondisi ini juga semakin menambah kekhawatiran terhadap ketatnya pasokan tembaga ditengah lonjakan permintaan yang tengah terjadi. Selain itu, gangguan dari tenaga kerja juga membayangi kondisi pasar setelah BHP Group meminta adanya mediasi guna mencegah mendeknya operasi tambangnya di Escondida dan Spence.

Reli harga tembaga dan komoditas logam industri lainnya terhenti pada pekan lalu setelah upaya pemerintah China untuk mengendalikan harga. Hal tersebut dilakukan guna menenangkan pasar akan munculnya kenaikan inflasi global.

Citigroup Inc. dalam laporannya merekomendasikan investor untuk membeli tembaga saat harganya tengah terkoreksi. Hal tersebut karena China kemungkinan akan kehabisan pilihan untuk menekan biaya tanpa membatalkan kebijakan pengendalian produksi untuk tujuan lingkungan dan energi.

“Kami tidak melihat adanya pembatalan kebijakan ini dalam waktu dekat mengingat prioritas strategis agenda ini,” jelas analis Citigroup, Tracy Liao dalam laporannya.

Liao melanjutkan, instrumen kebijakan yang diberlakukan pemerintah China untuk mengendalikan harga kemungkinan hanya bersifat sementara.

Setelah seluruh kebijakan diberlakukan, harga komoditas, termasuk tembaga diprediksi kembali menguat. Hal ini seiring dengan tingkat permintaan global yang solid serta pembatasan produksi domestik pada sejumlah komoditas.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

chile harga tembaga komoditas tembaga

Sumber : Bloomberg

Editor : Ropesta Sitorus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top