Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Terus Mendaki, Harga Komoditas Sentuh Level Tertinggi Sejak 2011

Indeks Spot Komoditas Bloomberg telah naik lebih dari 70 persen sejak mencapai level terendah selama empat tahun pada Maret 2020.
Ika Fatma Ramadhansari
Ika Fatma Ramadhansari - Bisnis.com 05 Mei 2021  |  13:07 WIB
Produksi komponen logam melalui peleburan sinar laser selektif di Pabrik BMW.  - BMW
Produksi komponen logam melalui peleburan sinar laser selektif di Pabrik BMW. - BMW

Bisnis.com, JAKARTA – Harga komoditas melonjak ke level tertinggi dalam hampir satu dekade karena rebound perekonomian dunia. Hal tersebut memicu permintaan logam, makanan, dan energi.

Sementara itu, cuaca buruk merusak tanaman dan kemacetan transportasi mengekang pasokan.

Berdasarkan Indeks Spot Komoditas Bloomberg, yang melacak harga 23 bahan mentah, harga komoditas naik 0,8 persen pada Selasa (4/5/2021) ke level tertinggi sejak 2011. 

Indeks tersebut telah naik lebih dari 70 persen sejak mencapai level terendah selama empat tahun pada Maret 2020.

Mengutip Bloomberg, pemulihan ekonomi dari pandemi Covid-19 di beberapa belahan negara membuat harga logam meningkat karena produksi manufaktur meningkat. Kemudian mulai kembalinya pengendara kendaraan bermotor ke jalan juga meningkatkan harga energi.

Sementara itu, harga tanaman seperti jagung, gandum, dan gula melonjak akibat kekeringan yang terjadi di Brasil, AS, dan Eropa, sementara China melahap persediaan. 

Perusahaan lindung nilai atau hedge fund diketahui telah menaikkan taruhan bullish mereka pada komoditas yang menandakan inflasi baru.

Melonjaknya harga bahan mentah, serta naiknya harga kebutuhan pokok hingga rumah tangga memicu ketakutan akan inflasi di seluruh dunia. Seperti yang disampaikan Menteri Keuangan AS Janet Yellen dalam sebuah wawancara bahwa suku bunga AS mungkin harus naik untuk memastikan ekonomi tidak "terlalu panas" pada Selasa (4/5/2021).

"Jelas ada optimisme untuk perbaikan ekonomi yang mengarah pada akselerasi permintaan,” kata Greg Sharenow, manajer portofolio di Pacific Investment Management Co., dikutip dari Bloomberg, Rabu (5/5/2021).

Sharenow menambahkan kurva kontrak berjangka untuk beberapa komoditas menunjukkan terbatasnya pasokan.

Perekonomian AS dan China pulih dengan cepat dari pandemi, memicu permintaan lebih banyak untuk mobil, barang elektronik, dan infrastruktur. Ford Motor Co. mengharapkan dampak US$2,5 miliar dari biaya komoditas dalam tiga kuartal terakhir tahun ini, yang berasal dari baja, aluminium, dan logam mulia.

Paket infrastruktur AS senilai US$2,25 triliun dari Presiden Joe Biden dan realisasi perjanjian iklim yang lebih agresif akan mempercepat perkembangan panel surya, turbin angin, dan kendaraan listrik juga mendorong keuntungan dan meningkatkan kekhawatiran akan kurangnya pasokan logam.

Goldman Sachs Group Inc. dalam laporan pada 28 April lalu memperkirakan harga komoditas dapat melonjak 13,5 persen lagi dalam enam bulan. 

Manajemen aset tersebut memperkirakan harga minyak mencapai US$80 per barel dan tembaga mencapai US$11.000 per ton. Selain itu harga minyak mentah diperkirakan akan mengalami peningkatan permintaan terbesar selama enam bulan ke depan karena peluncuran vaksinasi dan meningkatkan mobilitas.

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

komoditas rebound

Sumber : Bloomberg

Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top