Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dolar Kembali Bangkit, Ditopang Kenaikan Yield Obligasi AS

Imbal hasil obligasi pemerintah AS dengan tenor 10 tahun naik dua basis poin pada Kamis (29/4/2021), menjadi 1,639 persen, didorong oleh laporan ekonomi yang positif.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 30 April 2021  |  06:57 WIB
Ilustrasi Dolar AS - Reuters
Ilustrasi Dolar AS - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Pada penutupan perdagangan Kamis (29/4/2021) waktu AS atau Jumat pagi WIB dolar ditutup menguat, terangkat oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Kenaikan yield tersebut terjadi setelah pemerintah AS melaporkan pertumbuhan ekonomi yang kuat untuk kuartal pertama dan peningkatan klaim pengangguran baru pada minggu terakhir.

Dilansir Antara, imbal hasil obligasi pemerintah AS dengan tenor 10 tahun naik dua basis poin pada Kamis (29/4/2021), menjadi 1,639 persen, didorong oleh laporan ekonomi yang positif.

Produk domestik bruto meningkat pada tingkat tahunan 6,4 persen pada kuartal pertama, data menunjukkan pertumbuhan tercepat kedua sejak kuartal ketiga 2003.

Pertumbuhan kuartal pertama didukung oleh belanja konsumen, yang melonjak 10,7 persen dibandingkan dengan laju 2,3 persen pada kuartal keempat.

Pada laporan terpisah menunjukkan klaim awal AS untuk tunjangan pengangguran turun 13.000 menjadi 553.000 yang disesuaikan secara musiman selama pekan yang berakhir 24 April.

“Tentu saja, bagian besar dari pergerakan dolar adalah kenaikan imbal hasil hari ini. Ada korelasi yang cukup erat antara valas dan suku bunga,” kata Erik Nelson, ahli strategi makro di Wells Fargo Securities, New York.

Dia mengatakan semua orang puas dengan pergerakan suku bunga yang lebih rendah dan dolar hancur pada April. Sekarang imbal hasil naik dan sedikit stabil dan akan terlihat pada penguatan dolar.

Pertumbuhan ekonomi yang kuat biasanya meningkatkan nilai dolar karena mendorong lebih banyak pengeluaran, yang pada akhirnya mendongkrak harga kebutuhan. Ketika harga naik, Federal Reserve secara historis melakukan intervensi dengan menaikkan suku bunga untuk mencegah inflasi.

Dalam perdagangan sore, indeks dolar, ukuran nilai greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,1 persen menjadi 90,596. Sebelumnya, indeks mencapai level terendah sejak 26 Februari.

Penurunan sebelumnya dalam dolar juga mendorong euro ke level tertinggi sembilan minggu, meskipun mata uang tunggal tersebut telah stabil menjadi sekitar 1,2116 dolar, turun 0,1 persen.

Pada Rabu (28/4/2021), dolar turun setelah Ketua Fed Jerome Powell meredam spekulasi tentang pengurangan awal program pembelian obligasi bank sentral AS, mengatakan lapangan kerja masih jauh dari target.

Dovish The Fed sangat kontras dengan bank sentral Kanada (BoC), yang telah mulai mengurangi pembelian asetnya, mengirim dolar AS meluncur ke palung tiga tahun terhadap dolar Kanada. Greenback terakhir turun 0,2 persen terhadap mata uang Kanada pada 1,2281 dolar Kanada.

Dolar AS juga berjuang semalam setelah dorongan Presiden Joe Biden untuk mendapatkan tambahan US$1,8 triliun dalam belanja yang berisiko memperluas anggaran AS dan defisit perdagangan, sebuah tekanan untuk greenback.

Namun, yen berjuang melawan dolar, masih terguncang setelah bank sentral Jepang awal pekan ini mengatakan inflasi akan gagal mencapai target utama 2,0 persen hingga awal 2023. Dolar terakhir naik 0,3 perdsen versus yen di 108,88 yen.

Di pasar mata uang kripto, ethereum, mata uang digital terbesar kedua dalam hal kapitalisasi pasar, mencapai rekor tertinggi lain pada Kamis (29/4/2021) pada level 2.800,89 dolar. Terakhir turun 0,7 persen pada 2.732,09 dolar.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dolar as ekonomi as yield obligasi as

Sumber : Antara

Editor : Annisa Sulistyo Rini

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top