Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

IHSG Terkoreksi Sejak Awal Tahun, Saham Ini Malah Naik Hingga Ribuan Persen

Di tengah-tengah area gerak IHSG pada rentang 5.900—6.100 itu, terdapat sejumlah saham yang naik signifikan bahkan hingga ratusan-ribuan persen ytd.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 26 April 2021  |  20:43 WIB
Pengunjung memotret papan elektronik yang menampilkan pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (22/3/2021). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Pengunjung memotret papan elektronik yang menampilkan pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (22/3/2021). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Pergerakan IHSG semakin hari semakin melemah belakangan ini. Bahkan jika ditarik kembali ke awal tahun, performa IHSG kembali lagi ke zona merah per akhir penutupan perdagangan Senin (26/4/2021).

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG ditutup turun 0,86 persen atau 52,04 pion ke level 5.964,82 pada Senin (26/4/2021). Sejak awal tahun, IHSG melemah 0,24 persen.

Di sepanjang hari perdagangan, investor asing membukukan jual bersih atau net sell senilai Rp226,57 miliar. Namun secara year-to-date, investor asing masih mencatatkan beli bersih atau net buy senilai Rp8,66 triliun.

Di tengah-tengah area gerak IHSG pada rentang 5.900—6.100 itu, terdapat sejumlah saham yang naik signifikan bahkan hingga ratusan-ribuan persen ytd.

Saham PT Bank Net Indonesia Syariah Tbk. (BANK) menjadi jawara dengan lonjakan harga 3.220 persen ytd per 26 April 2021 menjadi Rp3.420.

Selanjutnya, saham PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) meroket 2.876 persen menjadi Rp12.500 diikuti saham PT Telefast Indonesia Tbk. (TFAS) yang melesat 1.511 persen menjadi Rp2.900.

Tak hanya emiten-emiten anyar yang baru listing pada periode 2019-2021, saham PT Matahari Putra Prima Tbk.(MPPA) yang sudah sepuh di pasar modal juga melonjak 719,05 persen menjadi Rp860. Adapun, MPPA sudah ada di bursa sejak 1992.

Head of Equity Research BNI Sekuritas Kim Kwie Sjamsudin menjelaskan penguatan saham yang bergerak di sektor ritel tersebut lebih disebabkan oleh rumor di pasar. Sementara sentimen fundamental bisnisnya saat ini masih beragam (mixed).

“Beberapa saham karena dirumorkan akan jadi target akuisisi maka harganya meningkat tajam,” kata Kim kepada Bisnis, Senin (26/4/2021).

Sebelumnya, kabar di pasar menyebutkan PT Aplikasi Karya Anak Bangsa atau Gojek membeli saham emiten peritel Grup Lippo. Sister company dari MPPA yaitu PT Matahari Department Store Tbk. (LPPF) menegaskan bahwa rumor tersebut hanya isu di pasar.

Lebih lanjut, BNI Sekuritas memilih top picks saham-saham dari sektor perbankan, telekomunikasi, dan semen untuk dicermati seperti BBRI, BMRI, TLKM, EXCL, dan SMGR.

Untuk sementara ini, Kim mengatakan belum mengubah target IHSG akhir tahun pada level 7.000 sembari menegaskan posisi bullish-nya.

“Kami belum ubah. Kami masih menunggu sinyal dari The Fed dalam 2-3 bulan ke depan apakah mereka akan tapering. Kalau tidak ada sinyal, kemungkinan IHSG untuk rebound masih tinggi,” tutur Kim.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG saham bursa efek indonesia emiten
Editor : Ropesta Sitorus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top