Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Soal Penambahan Ekspor Batu Bara, Adaro (ADRO) Belum Tergoda

Chief Financial Officer Adaro Energy Lie Luckman mengatakan bahwa perseroan akan mempertahankan target produksi yang sudah ditetapkan pada awal tahun ini sekitar 52 juta-54 juta ton.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 21 April 2021  |  13:55 WIB
Logo PT Adaro Energy, Tbk. - Reuters/Beawiharta
Logo PT Adaro Energy, Tbk. - Reuters/Beawiharta

Bisnis.com, JAKARTA - PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) belum ingin menambah volume produksi batu bara meskipun Kementerian ESDM menargetkan peningkatan ekspor pada 2021.

Chief Financial Officer Adaro Energy Lie Luckman mengatakan bahwa perseroan akan mempertahankan target produksi yang sudah ditetapkan pada awal tahun ini sekitar 52 juta-54 juta ton.

“Kami tetap dulu ke produksi yang ditargetkan sebelumnya, sambil lihat kondisi market. Tentu kami akan menjaga harga dari pasar jangan sampai batu bara kita banjiri ke pasar yang bisa sebabkan menurunkan harga itu sendiri,” ujar Lie Luckman, Senin (19/4/2021).

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Senin (19/4/2021) harga batu bara Newcastle untuk kontrak Mei 2021 di bursa ICE turun 0,87 persen ke posisi US$91,6 per ton. Sepanjang tahun berjalan 2021, harga telah naik 13,23 persen.

Untuk diketahui, pemerintah melalui Kementerian ESDM menetapkan adanya tambahan jumlah produksi batu bara, sebesar 75 juta ton untuk penjualan ke luar negeri. Dengan adanya penambahan tersebut, jumlah produksi batu bara pada 2021 meningkat menjadi 625 juta ton dari target sebelumnya 550 juta ton.

Sementara itu, Adaro Energy akan menggenjot produksi batu bara kalori tinggi atau coking coal dalam jangka menengah.

Lie Luckman mengatakan bahwa perseroan menargetkan volume produksi coking coal pada 2021 berada di kisaran 2,4 juta ton hingga 2,5 juta ton.

Target tersebut hampir dua kali lipat dari realisasi produksi batu bara coking coal emiten berkode saham ADRO itu pada 2020 sebesar 1,5 juta ton. Peningkatan produksi itu pun sejalan dengan sejumlah uji coba yang berhasil dilakukan oleh perseroan pada 2020.

Dia berharap, peningkatan produksi batu bara kalori tinggi ini dapat menyeimbangkan produksi batu bara kalori rendah atau thermal coal yang saat ini masih menjadi kontributor utama penjualan.

“Tahun ini kami coba maksimalkan dari coking coal-nya. Berharap lambat laun kami bisa mencapai dalam 2-3 tahun itu bisa mencapai 3 juta ton atau lebih,” ujar Luckman.

Sejalan dengan peningkatan produksi batu bara kalori tinggi, perseroan juga tengah membuka penetrasi pasar baru untuk batu bara jenis itu. Pasa terutama ditujukan kepada negara yang banyak memproduksi baja.

Dia pun mengungkapkan bahwa permintaan pasar terhadap coking coal dunia juga semakin prospektif.

Coking coal kami sedang jajaki Jepang, India, dalam negeri, juga ada China. Kami sedang giat-giatnya membuka pasar coking coal dan kenalkan produk batu bara AMC [Adaro Metcoal Companies] khususnya ke negara asia yang menghasilkan baja,” papar Luckman.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batu bara adaro harga batu bara adaro energy
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top