Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Laju Harga Minyak Kian Terbatas Akibat Corona Mengganas

Analis Rystad Energy Louise Dickson menjelaskan, kondisi penyebaran virus corona yang semakin buruk terutama di wilayah Eropa, Brasil, dan India berdampak negatif bagi harga minyak.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 12 April 2021  |  08:15 WIB
Ilustrasi. Tanki penimbunan minyak. - Bloomberg
Ilustrasi. Tanki penimbunan minyak. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak dunia terus terkoreksi hingga mencatatkan pekan terburuk dalam tiga minggu terakhir. Namun demikian, peluang kenaikan harga masih cukup terbuka kendati cenderung terbatas.

Dilansir dari Bloomberg pada Minggu (11/4/2021), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) ditutup terkoreksi 0,47 persen di level US$59,32 per barel pada akhir pekan ini. Jumlah tersebut menurun 3,5 persen sekaligus menjadi catatan mingguan terburuk sejak pertengahan Maret lalu.

Sementara itu, harga minyak Brent juga terpantau terkoreksi ke level US$62,95 per barel, atau turun 0,40 persen.

Adapun, harga minyak dunia WTI di New York telah berada di kisaran US$60 per barel sejak pertengahan Maret seiring dengan volatilitas pasar yang menuju ke level terendah dalam sebulan terakhir.

Analis Rystad Energy Louise Dickson menjelaskan, kondisi penyebaran virus corona yang semakin buruk terutama di wilayah Eropa, Brasil, dan India berdampak negatif bagi harga minyak.

Dickson memaparkan, ketika jumlah kasus positif naik di wilayah-wilayah tersebut, maka tingkat permintaan minyak akan turut tertekan. Pasalnya, pembatasan pergerakan yang ditetapkan pemerintah akan membatasi konsumsi produk seperti bahan bakar minyak.

Ia melanjutkan, sentimen penyebaran virus corona dan pembatasan perjalanan masih akan membebani pergerakan harga minyak dalam beberapa waktu ke depan. Progres vaksinasi di seluruh dunia akan menjadi katalis positif utama bagi kenaikan harga minyak agar kegiatan ekonomi global dapat kembali berjalan.

“Meski demikian, kami masih tetap pada posisi bullish untuk minyak seiring dengan kelanjutan program vaksin. Tingkat permintaan minyak pada musim panas ini juga akan tinggi sehingga memicu kenaikan harga minyak ke level US$66 per barel,” kata Dickson.

Secara terpisah, Founder Traderindo.com Wahyu Laksono mengatakan, pelemahan harga minyak dunia saat ini terbilang wajar. Menurutnya, penurunan ini terjadi setelah harga minyak sempat menembus level tertinggi tahunan di US$63,80 per barel.

“Harga minyak memang biasanya terkoreksi jelang dan setelah pertemuan OPEC+,” jelasnya.

Selain itu, penurunan harga minyak juga dipicu oleh tren penguatan dolar AS yang masih terjadi hingga kini. Hal ini juga ditambah dengan kondisi pasar yang masih mengkhawatirkan potensi kenaikan inflasi.

Ia memaparkan, lonjakan imbal hasil obligasi AS atau US Treasury juga diprediksi akan menekan bank sentral AS (The Fed) sehingga mengancam reflationary trade dan akan membebani harga komoditas, termasuk harga minyak.

Menurutnya, sepanjang semester I/2021 ini, harga minyak masih akan bergantung pada kebijakan moneter yang akan diambil oleh The Fed. Ia menjelaskan, kebijakan dari The Fed akan menentukan arah pergerakan dolar AS yang akan turut berimbas pada harga komoditas.

“Selama masih ada keyakinan pasar terhadap munculnya super cycle, maka outlook bullish minyak akan tetap berjalan,” jelasnya.

Wahyu memprediksi harga minyak akan bergerak di rentang US$40 hingga US$70 per barel sepanjang semester I/2021.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak komoditas harga minyak mentah wti
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top