Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Waduh, PGAS Berbalik Rugi Rp3,8 Triliun pada 2020

Capaian itu berbanding terbalik dengan pencapaian 2019, di mana perseroan berhasil membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar US$83,7 juta.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 10 April 2021  |  15:14 WIB
Petugas mengawasi pipa gas PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGN). Istimewa - PGN
Petugas mengawasi pipa gas PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGN). Istimewa - PGN

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten pelat merah, PT Perusahaan Gas Negara Tbk., membukukan penurunan kinerja keuangan pada 2020.
Berdasarkan laporan keuangan, emiten berkode saham PGAS itu membukukan rugi tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar US$260,15 juta atau Rp3,8 triliun (kurs Rp14.615) pada 2020.

Capaian itu berbanding terbalik dengan pencapaian 2019, di mana perseroan berhasil membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar US$83,7 juta.

Sejalan dengan itu, PGAS mencatatkan penurunan 25 persen secara year on year (yoy) pada pos pendapatan menjadi sebesar US$2,88 miliar dibandingkan dengan perolehan 2019 sebesar US$3,84 miliar.

Pendapatan itu terdiri atas segmen bisnis niaga dan transmisi sebesar US$2,7 miliar, eksplorasi dan produksi minyak gas sebesar US$203,7 juta, dan pendapatan operasi lainnya US$259,78 juta.

Adapun lebih perinci, pendapatan niaga gas bumi perseroan terdiri atas industri dan komersial sebesar US$2,28 miliar terkoreksi 22,9 persen yoy, dan SPBG sebesar US$2,64 juta yang turun 15,5 persen yoy.

Hanya pendapatan niaga gas bumi dari rumah tangga yang berhasil mengalami kenaikan, yaitu hingga 55,1 persen yoy menjadi US$14,34 juta.

Sementara itu, beban pokok pendapatan perseroan turun menjadi US$2,03 miliar dibandingkan dengan posisi 2019 sebesar US$2,62 miliar.

Kendati demikian, sejumlah beban tampak membengkak seperti beban lain-lain menjadi US$64,15 juta, penurunan nilai aset eksplorasi dan evaluasi US$3,2 juta, dan penurunan nilai properti minyak dan gas bersih sebesar US$75,58 juta dibandingkan dengan posisi tahun sebelumnya mencetak pemulihan nilai US$62,73 juta.

Di sisi lain, total liabilitas PGAS pada akhir 2020 naik menjadi US$4,57 miliar dibandingkan dengan posisi akhir 2019 sebesar US$4,13 miliar. Liabilitas 2020 itu terdiri atas liabilitas jangka panjang sebesar US$3,39 miliar, dan liabilitas jangka pendek sebesar US$1,18 miliar.

Total aset pada akhir 2020 naik menjadi US$7,53 miliar dibandingkan dengan US$7,3 miliar pada akhir 2019.

Kas dan setara kas perseroan pada akhir 2020 tercatat naik menjadi US$1,17 miliar dibandingkan dengan posisi akhir 2019 sebesar US$1,04 miliar.

Kendati demikian, kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi akhir 2020 menyusut tajam hingga 49,08 persen menjadi sebesar US$416,87 juta dibandingkan dengan akhir 2019 sebesar US$817,89 juta.

Sebelumnya, Direktur Utama PGN Suko Hartono mengatakan, perusahaan memproyeksi adanya potensi kerugian yang dialami saat penyaluran gas ke pelanggan industri selama 2020 hingga 2024. Selama periode itu, PGAS diperkirakan secara akumulasi mengalami kerugian sebesar US$801,38 juta.

Dia menjelaskan, salah satu penyebab kerugian adalah  tak maksimalnya serapan gas untuk industri tersebut. Menurutnya, dari total alokasi yang disiapkan untuk industri tertentu, baru sekitar 61 persen atau 229,4 BBtud gas bumi yang baru terserap. Sementara untuk pembangkit dari total alokasi, baru 80 persen atau 251,6 BBtud yang terserap. 

"Mungkin ini yang menjadi catatan untuk dievaluasi bersama karena memang ternyata meskipun diberikan harga yang relatif baik tapi pemakaiannya masih 61 persen, kami harapkan mestinya pemakaiannya bisa sampai 100 persen dan lebih mendorong industri di hilir untuk lebih berproduksi," katanya dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi VII, Rabu (24/3/2021).

Suko mengatakan, dengan tidak terserap seluruhnya volume gas tersebut, maka akan membuat masalah baru bagi PGN. Pasalnya, gas yang dialokasikan untuk harga gas bumi tertentu tersebut tidak bisa dipisahkan atau dimanfaatkan untuk kebutuhan nonpenugasan.
Sementara itu, Suko menyebut pihaknya telah menjalankan penugasan tersebut secara 100 persen.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

migas Kinerja Emiten pgas
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top