Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dolar AS Makin Perkasa Ditopang Komitemen The Fed

Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama saingannya, turun 0,181 persen menjadi 92,473. Indeks turun ke level 92.134 di awal sesi.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 08 April 2021  |  08:18 WIB
Karyawan menunjukan Dolar AS di Jakarta, Rabu (27/1/2021). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 15 poin atau 0,11 persen menjadi Rp14.050 per dolar AS. Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Karyawan menunjukan Dolar AS di Jakarta, Rabu (27/1/2021). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 15 poin atau 0,11 persen menjadi Rp14.050 per dolar AS. Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) naik tipis terhadap sejumlah mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Kamis pagi WIB (8/4/2021), setelah risalah pertemuan Federal Reserve Maret menunjukkan komitmen bank sentral untuk memperpanjang dukungan kebijakan moneter sampai ekonomi Negeri Paman Sam mengalami rebound ke tingkat yang lebih aman.

Ketika ekonomi AS mulai menguat tahun ini, para pejabat Federal Reserve tetap berhati-hati tentang berlanjutnya risiko pandemi dan berkomitmen untuk memberikan dukungan kebijakan moneter sampai rebound lebih aman, menurut risalah tersebut.

Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama saingannya, turun 0,181 persen menjadi 92,473. Indeks turun ke level 92.134 di awal sesi.

Dolar AS telah terapresiasi tahun ini bersama dengan imbal hasil obligasi pemerintah, karena investor bertaruh AS akan pulih lebih cepat dari pandemi Covid-19 daripada negara maju lainnya yang dibantu oleh stimulus fiskal dan moneter besar-besaran.

Tetapi kenaikan indeks dolar sebesar 2,5 persen pada Maret, kenaikan bulanan terbesar sejak akhir 2016, mendorong beberapa pedagang untuk membukukan keuntungan, kata para analis. Penurunan dalam imbal hasil obligasi pemerintah setelah reli yang cepat tahun ini juga menambah tekanan pada dolar.

Semua ini telah membuat investor bertanya-tanya apakah pelemahan dolar, yang mengirim mata uang tersebut ke level terendah tiga tahun awal tahun ini, mungkin akan berlanjut.

"Saya tidak berpikir bahwa ini saatnya untuk mengatakan bahwa dolar berada dalam tren menurun, namun beberapa dukungan yang dilihat telah memudar sampai taraf tertentu," kata Kepala Strategi Makro di Equiti Capital di London Stuart Cole.

Data Eropa yang optimis pada Rabu (7/4/2021) menunjukkan aktivitas bisnis zona euro bangkit kembali ke pertumbuhan pada bulan lalu, juga mendukung mata uang bersama terhadap greenback.

Dolar Australia melemah terhadap dolar, turun 0,74 persen, sedangkan dolar Selandia Baru turun 0,75 persen, keduanya menghentikan lintasan kenaikan mereka dalam dua minggu terakhir.

Dolar Kanada juga jatuh, terpukul oleh gelombang ketiga pandemi Covid-19 di negara itu. Sterling merosot karena aksi ambil untung oleh para pedagang setelah kuartal pertama yang kuat untuk mata uang Inggris menariknya ke level terendah seminggu terhadap dolar, dan terendah dalam dua minggu terhadap euro.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dolar as federal reserve

Sumber : Antara

Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top