Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mulai Pulih Perlahan, Ini Prospek Harga Tembaga

Tren positif kenaikan harga tembaga diprediksi berlanjut, seiring dengan isu pasokan dari produsen tembaga terbesar di dunia.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 07 April 2021  |  09:32 WIB
Tembaga. - Bloomberg
Tembaga. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Harga tembaga kembali menguat ditengah ditengah prospek pertumbuhan perekonomian AS yang tajam. Peluang kelanjutan tren positif juga masih terbuka seiring dengan isu pasokan dari produsen tembaga terbesar di dunia.

Dilansir dari Bloomberg pada Rabu (7/4/2021), harga tembaga untuk pengiriman bulan Mei di Comex menyentuh level US$409,25 per pound setelah sempat menyentuh level US$413 per pound kemarin.

Sementara itu, harga tembaga berjangka di London Metal Exchange (LME) terpantau pada level US$9.047 per metrik ton atau naik 2,92 persen.

Salah satu sentimen pendorong rebound harga tembaga adalah rilis data ketenagakerjaan AS yang lebih baik dari perkiraan sebelumnya.

Angka ketenagakerjaan di Amerika Serikat mencatatkan penambahan pekerjaan terbesar dalam 7 bulan dengan pemulihan merata di seluruh sektor pada Maret lalu. Data dari Kementerian Ketenagakerjaan AS menyebutkan, Nonfarm Payrolls atau NFP naik 916 ribu dan jumlah pekerjaan pada Februari 2021 juga direvisi naik menjadi 468 ribu.

Rilis data tersebut memunculkan keyakinan dari pasar bahwa perekonomian Negeri Paman Sam akan pulih lebih cepat dibandingkan negara-negara lain. Selain itu, proses vaksinasi yang terus berjalan serta berkurangnya pembatasan kegiatan juga semakin mendorong pertumbuhan lapangan kerja AS.

Senior Vice President Zaner Group, Peter Thomas menyebutkan, sentimen data dari AS menjadi katalis utama yang mendorong kenaikan harga tembaga. Ia menyebutkan, dunia akan membutuhkan banyak tembaga apabila rencana stimulus infrastruktur Presiden AS, Joe Biden terealisasi.

“Rencana stimulus dari AS mencakup kebijakan untuk mendorong industri kendaraan listrik yang menggunakan tembaga dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan kendaraan konvensional,” jelasnya dikutip dari Bloomberg.

Adapun, perdebatan terkait stimulus Biden ini telah berlangsung antara Partai Demokrat dan Partai Republik. Partai Demokrat ingin menambah jumlah stimulus yang saat ini dipatok sebesar US$2,25 triliun. Di sisi lain, Partai Republik bersedia mendukung paket insentif ini apabila jumlahnya dipangkas hingga dua pertiganya.

Founder Traderindo.com Wahyu Laksono menjelaskan, nilai tukar dolar AS yamg sempat terkoreksi ikut berimbas positif bagi harga tembaga. Hal tersebut menandakan adanya kekhawatiran kenaikan inflasi seiring dengan laju pemulihan ekonomi yang semakin cepat.

Ia melanjutkan, isu keterbatasan pasokan tembaga akan menjadi katalis positif yang cukup signifikan dalam beberapa waktu ke depan. Hal tersebut terjadi setelah Chile menutup perbatasannya seiring dengan lonjakan kasus virus corona.

“Hal ini akan meningkatkan upaya pembatasan pergerakan yang nantinya berimbas pada kelancaran distribusi tembaga ke pasar global,” paaprnya saat dihubungi pada Selasa (6/4/2021).

Sementara itu, Analis Bloomberg Intelligence Andrew Cosgrove dalam risetnya menyebutkan, prospek harga tembaga ke depannya masih cukup baik. Hal ini seiring sengan sejumlah indikator positif pada pasar tembaga fisik.

"Harga tembaga telah melesat tajam dan dalam waktu yang cepat. Konsolidasi harga memang diperlukan agar pergerakan bullish kedepannya dapat berlanjut," jelas Cosgrove dikutip dari laporannya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga tembaga komoditas tembaga
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top