Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Biden Siapkan Stimulus Infrastruktur, Harga Tembaga Rebound

Salah satu sentimen pendorong rebound harga tembaga adalah rilis data ketenagakerjaan AS yang lebih baik dari perkiraan sebelumnya.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 06 April 2021  |  13:15 WIB
Gulungan kabel tembaga di pabrik Uralelectromed OJSC Copper Refinery yang dioperasikan oleh Ural Mining and Metallurgical Co. di Verkhnyaya Pyshma, Rusia, Selasa (7/3/2017). - Bloomberg/Andrey Rudakov
Gulungan kabel tembaga di pabrik Uralelectromed OJSC Copper Refinery yang dioperasikan oleh Ural Mining and Metallurgical Co. di Verkhnyaya Pyshma, Rusia, Selasa (7/3/2017). - Bloomberg/Andrey Rudakov

Bisnis.com, JAKARTA – Harga tembaga mencatatkan kenaikan terbesarnya dalam enam pekan ditengah prospek rebound perekonomian AS yang tajam.

Dilansir dari Bloomberg pada Selasa (6/4/2021), harga tembaga untuk pengiriman bulan Mei di Comex naik ke level US$4,1375 per pound. Kenaikan tersebut merupakan lonjakan terbesar sejak 19 Februari lalu.

Sementara itu, harga tembaga berjangka di London Metal Exchange (LME) terpantau pada level US$8.790 per metrik ton atau naik 0,05 persen. Adapun, bursa London saat ini tengah ditutup memasuki masa libur Paskah.

Salah satu sentimen pendorong rebound harga tembaga adalah rilis data ketenagakerjaan AS yang lebih baik dari perkiraan sebelumnya.

Angka ketenagakerjaan di AS mencatatkan penambahan pekerjaan terbesar dalam 7 bulan dengan pemulihan merata di seluruh sektor pada Maret lalu.

Data dari Kementerian Ketenagakerjaan AS menyebutkan, Nonfarm Payrolls atau NFP naik 916 ribu dan jumlah pekerjaan pada Februari 2021 juga direvisi naik menjadi 468 ribu.

Rilis data tersebut memunculkan keyakinan dari pasar bahwa perekonomian Negeri Paman Sam akan pulih lebih cepat dibandingkan negara-negara lain. Selain itu, proses vaksinasi yang terus berjalan serta berkurangnya pembatasan kegiatan juga semakin mendorong pertumbuhan lapangan kerja AS.

Senior Vice President Zaner Group, Peter Thomas menyebutkan, sentimen data dari AS menjadi katalis utama yang mendorong kenaikan harga tembaga. Ia menyebutkan, dunia akan membutuhkan banyak tembaga apabila rencana stimulus infrastruktur Presiden AS, Joe Biden terealisasi.

“Rencana stimulus dari AS mencakup kebijakan untuk mendorong industri kendaraan listrik yang menggunakan tembaga dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan kendaraan konvensional,” jelasnya dikutip dari Bloomberg.

Adapun, perdebatan terkait stimulus Biden ini telah berlangsung antara Partai Demokrat dan Partai Republik. Partai Demokrat ingin menambah jumlah stimulus yang saat ini dipatok sebesar US$2,25 triliun. Di sisi lain, Partai Republik bersedia mendukung paket insentif ini apabila jumlahnya dipangkas hingga dua pertiganya.

Di sisi lain, pelemahan dolar AS turut berimbas positif bagi harga tembaga. Indeks dolar AS terpantau turun sekitar 0,4 persen, yang membuat tembaga dilirik oleh investor yang tidak memegang mata uang dolar AS.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

amerika serikat harga tembaga komoditas tembaga Joe Biden

Sumber : Bloomberg.com

Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top