Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Emas Masih Sulit Bersinar, Tertekan Dua Faktor

Sejak emas menguat pada awal tahun ini, pergerakannya kini cenderung terus melemah. Hal ini disebabkan oleh imbal hasil (yield) obligasi AS atau US Treasury yang menguat dan masih berada di level 1,5 persen.
Karyawan menunjukan replika emas logam mulia di Butik Antam, Jakarta, Selasa (8/9/2020). Harga emas PT Aneka Tambang Tbk. pada hari perdagangan Selasa (8/9/2020) menurun dibandingkan dengan perdagangan hari sebelumnya. Bisnis/Himawan L Nugraha
Karyawan menunjukan replika emas logam mulia di Butik Antam, Jakarta, Selasa (8/9/2020). Harga emas PT Aneka Tambang Tbk. pada hari perdagangan Selasa (8/9/2020) menurun dibandingkan dengan perdagangan hari sebelumnya. Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Tren kenaikan harga emas dinilai hanya akan berlangsung sementara. Sejumlah sentimen negatif, dari kenaikan imbal hasil US Treasury hingga investor yang beralih ke aset digital masih membayangi pergerakan harga logam mulia.

Berdasarkan data Bloomberg pada Senin (8/3/2021), harga emas di pasar Spot sempat menguat hingga 0,5 persen ke level US$1.709,53 per troy ounce. Sedangkan, harga emas Comex sempat naik hingga 0,38 persen ke level US$1.704,90 per troy ounce.

Meski demikian, pada perdagangan siang, harga emas Spot kembali terkoreksi tipis 0,03 persen ke kisaran US$1.700,04 per troy ounce.

Analis Capital Futures Wahyu Laksono mengatakan sejak emas menguat pada awal tahun ini, pergerakannya kini cenderung terus melemah. Hal ini disebabkan oleh imbal hasil (yield) obligasi AS atau US Treasury yang menguat dan masih berada di level 1,5 persen.

Ia mengatakan, rebound yang terjadi pada awal pekan ini tidak akan berlangsung lama. Menurutnya, secara umum pergerakan harga emas saat ini akan kembali terkoreksi pada pertengahan pekan.

“Saat ini emas termasuk komoditas yang lemah karena tertekan US Treasury,” katanya saat dihubungi pada Senin (8/3/2021).

Wahyu melanjutkan, pergerakan emas saat ini telah berada di bawah trend line terendah pada November 2020 lalu di posisi US$1.764 per troy ounce. Hal tersebut berpotensi semakin melemahkan harga emas dalam jangka pendek.

Sentimen negatif untuk emas juga muncul dari data non farm payroll AS yang menunjukkan perbaikan. Hal tersebut semakin memperkuat optimisme pelaku pasar akan pemulihan ekonomi global pada tahun ini yang berimbas pada melemahnya daya tarik emas sebagai aset safe haven.

“Dalam jangka pendek, trennya masih akan melemah dengan kisaran harga US$1.600 hingga US$1.800 per troy ounce,” tuturnya.

Hal senada diungkapkan Division Manager PT Royal Trust Futures Suluh Adil Wicaksono. Ia menjelaskan, salah satu katalis yang meningkatkan harga emas adalah lolosnya paket stimulus AS senilai US$1,9 triliun di lantai Senat.

Kendati demikian, Suluh mengatakan, sentimen ini tidak sepenuhnya akan memastikan pergerakan positif harga emas ke depannya.

“Kenaikan untuk saat ini belum akan permanen, masih banyak sentimen penekan harga emas,” jelasnya.

Menurutnya, salah satu katalis yang menghambat penguatan harga emas yang berkelanjutan adalah imbal hasil US Treasury yang masih terus naik. Kenaikan tersebut secara langsung juga mengerek naik indeks dolar AS.

Selain itu, munculnya mutasi pada pandemi virus corona juga berpeluang semakin meredupkan kilau emas. Meski demikian, ia mengatakan prospek pemulihan ekonomi dunia dapat menekan sentimen tersebut dan membuat harga emas bertahan di atas level psikologis US$1.700 per troy ounce.

“Hingga paruh pertama tahun ini harga emas kemungkinan akan berada di level US$1.690 hingga US$1.790 per troy ounce,” ujarnya.

Sementara itu, dari dalam negeri harga emas batangan 24 karat PT Aneka Tambang Tbk. pada hari Senin (8/3/2021) terpantau menguat.

Berdasarkan informasi dari Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia Antam, harga dasar emas 24 karat ukuran 1 gram dijual senilai Rp924.000, atau naik Rp1.000 dibandingkan harga hari sebelumnya. Emas satuan terkecil dengan ukuran 0,5 gram kini dibanderol Rp512.000 juga menguat dari harga perdagangan sebelumnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper