Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Saham Small-Mid Caps Laris Manis, Kenapa?

Investor ritel terutama yang baru masuk ke pasar saham dinilai lebih menyukai saham-saham dengan harga terjangkau dan potensi imbal hasil tinggi.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 07 Maret 2021  |  15:50 WIB
Karyawan berada di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (7/9/3030). Bisnis - Dedi Gunawan
Karyawan berada di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (7/9/3030). Bisnis - Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - Analis menilai kinerja saham lapis kedua dan ketiga yang lebih unggul dari saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) sejak awal tahun didorong oleh daya tarik valuasi yang sudah murah.

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama mengatakan harga-harga saham berkapitalisasi pasar menengah dan kecil banyak digandrungi oleh investor ritel yang terbilang ramai di pasar modal saat ini. 

Investor ritel terutama yang baru masuk ke pasar saham pun tampaknya lebih menyukai saham-saham dengan harga terjangkau dan potensi imbal hasil tinggi.

"Terdapat harga saham yang mengalami koreksi sehingga perlahan harga saham tersebut dinilai terjangkau [dan diminati]," kata Nafan, Minggu (7/3/2021).

Kendati demikian, biasanya pergerakan harga saham middle caps dan small caps bisa lebih fluktuatif dibandingkan saham bluechip. Artinya kenaikan harga yang signifikan berbanding lurus dengan risiko penurunan harga yang signifikan pula.

Untuk itu, Nafan mengingatkan investor untuk selalu mencermati kondisi fundamental dari setiap perusahaan. Laporan keuangan maupun keterbukaan informasi juga harus selalu dipantau untuk memprediksi prospek emiten ke depan.

Secara teknikal, Nafan paling menjagokan saham PT Alam Sutera Realty Tbk. (ASRI) sementara saham small-medium caps lainnya masih dipantau (under review).

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia per 5 Maret 2021, indeks IDX SMC Composite naik 8,99 persen atau outperform dari IHSG yang tumbuh 4,68 persen secara year-to-date (ytd).

Selanjutnya indeks SMC Liquid yang berisi 51 saham berkapitalisasi menengah dan kecil paling likuid naik 3,98 persen ytd. Penguatan itu juga berada di atas kinerja saham indeks LQ45 yang berisi saham-saham berkapitalisasi besar terlikuid sebesar 0,69 persen ytd.

Adapun, sebanyak 16 saham dari konstituen saham IDX SMC Composite mencatatkan kenaikan harga signifikan lebih dari 100 persen secara year-to-date per 5 Maret 2021.

Beberapa di antaranya a.l. PT Bank Bumi Arta Tbk. (BNBA) meroket 686,73 persen, PT Bank Artha Graha Internasional Tbk. (INPC) naik 400 persen, dan PT Bank IBK Indonesia Tbk. (AGRS) naik 294,61 persen.

Di sisi lain, penurunan harga dari keluarga saham mid caps dan small caps ini paling dalam sebesar 57,39 persen yaitu saham PT Satria Antaran Prima Tbk. (SAPX). Selanjutnya saham PT Maha Properti Indonesia Tbk. (MPRO) turun 48,28 persen.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Indeks BEI investor ritel lq45
Editor : Yustinus Andri DP

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top