Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kekhawatiran Investor Mereda, Bursa Asia Pesta Pora

Indeks Hang Seng Hong Kong terpantau melesat 2,5 persen, disusul oleh Shanghai Composite (2 persen) dan Kospi Korea Selatan (1,3 persen).
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 03 Maret 2021  |  14:54 WIB
Bursa Saham Korea Selatan. -  Seong Joon Cho / Bloomberg
Bursa Saham Korea Selatan. - Seong Joon Cho / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Bursa saham Asia ditutup menguat setelah kekhawatiran terhadap valuasi yang berlebihan menurun dan perhatian investor kembali ke pemulihan ekonomi yang didorong oleh paket stimulus.

Dilansir dari Bloomberg, indeks Hang Seng Hong Kong terpantau melesat 2,5 persen disusul oleh Shanghai Composite yang naik 2 persen serta Kospi Korea Selatan yang ditutup menguat 1,3 persen.

Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 Australia ditutup menguat 0,8 persen diikuti oleh Topix Jepang yang ditutup di zona hijau setelah naik 0,5 persen.

Imbal hasil obligasi AS turun di tengah komentar dari Gubernur Federal Reserve Lael Brainard bahwa yang menyatakan volatilitas pasar obligasi selanjutnya dapat menunda mundurnya pembelian aset besar-besaran bank sentral.

Pemulihan tajam perekonomian Australia yang membentuk huruf V meningkatkan optimisme investor terhadap pemulihan ekonomi global yang turut mendukung penguatan saham setempat. Di saat yang sama, investor juga mengkhawatirkan kenaikan inflasi akan menggoyahkan keyakinan bank sentral untuk tetap memberlakukan kebijakan moneter yang longgar.

“Tingkat imbal hasil nyata masih cukup negatif dan tetap mengindikasikan kebijakan moneter yang longgar. Seiring dengan perpindahan dari pasar yang didominasi oleh bank sentral dan kebijakannya ke pasar yang ditopang oleh permintaan dan penawaran, volatilitas saham pasti akan terjadi,” jelas Kathy Jones, Chief Fixed Income Strategist di Charles Schwab.

Sementara bullish di antara ahli strategi Wall Street mendekati level yang telah menunjukkan potensi masalah bagi pasar saham, menurut Bank of America.

“Jika suku bunga mulai bergerak lebih tinggi dan lebih cepat dari yang diharapkan, maka ada kemungkinan kemunduran yang lebih signifikan di pasar,” ungkap Katerina Simonetti, wakil presiden senior Morgan Stanley Private Wealth Management.

Di tempat lain, minyak berbalik menguat setelah sempat terkoreksi selama tiga hari terakhir jelang pertemuan OPEC+ yang akan menambah output minyak. Selain itu, Bitcoin bergerak menguat di atas level US$ 49.000.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bursa Asia
Editor : Rivki Maulana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top