Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Kinerja 2020 : Laba Emiten Milik Orang Terkaya Ke-5 Indonesia Turun Tajam

Laba bersih yang tergerus ini karena menghilangnya pos pendapatan dari keuntungan pelepasan entitas asosiasi atau aktivitas menjual anak usaha yang dilakukan pada 2019 dan mendapatkan keuntungan hingga US$30 juta.
Logo Indorama
Logo Indorama

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten  tekstil PT Indo-rama Synthetics Tbk (INDR) mencatatkan penurunan pendapatan sekaligus laba bersih sepanjang 2020 hingga 83,65 persen.

Berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2020 hasil audit yang dikutip Bisnis.com pada Kamis (18/2/2021), pendapatan emiten bersandi INDR ini tergerus 23,27 persen menjadi US$589,04 juta atau setara Rp8,24 triliun dari pendapatan pada 2019 yang mencapai US$767,75 juta.

Sementara itu, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan ke entitas induk tercatat turun signifikan hingga 83,65 persen dari yang asalnya mendapatkan US$38,11 juta menjadi hanya US$6,23 juta atau setara Rp87,22 miliar.

Laba bersih yang tergerus ini karena menghilangnya pos pendapatan dari keuntungan pelepasan entitas asosiasi atau aktivitas menjual anak usaha yang dilakukan pada 2019 dan mendapatkan keuntungan hingga US$30 juta.

Padahal, dari sisi beban biaya keuangan terjadi penurunan dari rugi US$9,6 juta menjadi Rp7,4 juta, serta beban penjualan pun turun dari US$7,6 juta menjadi US$5,8 juta.

Selain itu, perseroan juga bahkan mencatatkan untung bersih dari kurs mata uang asing sebesar US$2,12 juta ketika pada 2019 mengalami kerugian hingga US$2,29 juta.

Sementara itu, jumlah liabilitas perusahaan juga naik tipis menjadi US$387,37 juta dari tahun sebelumnya yang sebesar US$385,64 juta. Hal ini terjadi karena peningkatan jumlah liabilitas jangka panjang yang naik menjadi US$128,3 juta dari sebelumnya US$127,3 juta.

Liabilitas jangka pendek pun mengalami kenaikan tipis menjadi US$259,07 juta dari sebelumnya US$258,29 juta. Adapun jumlah ekuitas perseroan pun meningkat menjadi US$376,47 juta dari tahun sebelumnya yang sebesar US$367,91 juta.

Sementara itu, total aset perseroan pun meningkat pada 2020 menjadi US$763,85 juta daripada total aset pada 2019 yang sebesar US$753,55 juta. Dengan jumlah aset tidak lancar senilai US$481,01 juta dan aset lancar mencapai US$282,74 juta.

Di sisi lain, total kas dan setara kas INDR cukup melimbah dan mencapai US36,7 juta pada 2020, sementara pada tahun sebelumnya hanya US$19,15 juta. Pada perdagangan hingga pukul 13.37 WIB, Kamis (18/2/2021), saham INDR bergerak di zona hijau menguat 0,51 persen ke level 6.259.

Indo-Rama Synthetics merupakan perusahaan afiliasi Sri Prakash Lohia yang bergerak di bisnis petrokimia. Dia berada di urutan kelima dari daftar 50 orang Indonesia yang masuk jajaran orang terkaya 2020 versi Forbes.

Lohia merupakan pendiri Indorama Corporation. Forbes menaksir kekayaan yang dimilikinya mencapai US$6,4 miliar per 28 Desember 2020. Adapun, Indorama Holdings B.V. memegang kepemilikan saham 34,03 persen di Indo-Rama Synthetics (INDR) per 31 Februari 2020.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper