Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Saat IHSG Tumbang, Saham Sektor Teknologi Meroket 93 Persen

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia per 29 Januari 2021, indeks IDX Sector Technology yang memiliki konstituen sebanyak 19 saham melesat 93,73 persen sejak awal tahun (year-to-date).
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 30 Januari 2021  |  08:35 WIB
PT DCI Indonesia. -  Istimewa
PT DCI Indonesia. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Indeks sektoral anyar di Bursa Efek Indonesia yang berisikan saham emiten teknologi mencatatkan kinerja gemilang sejak awal tahun.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia per 29 Januari 2021, indeks IDX Sector Technology yang memiliki konstituen sebanyak 19 saham melesat 93,73 persen sejak awal tahun (year-to-date).

Kenaikan itu jauh lebih baik atau outperform dari performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang hanya turum 1,96 persen..

Saham PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) memimpin penguatan harga sejak awal tahun sebesar 1.602 persen menjadi Rp7.150. Selanjutnya saham PT Kioson Komersial Indonesia Tbk. (KIOS) meroket 349,32 persen menjadi Rp665.

Di sisi lain, penurunan harga paling tajam terjadi pada saham PT Sentral Mitra Informatika Tbk. yang anjlok 29,82 persen menjadi Rp120.

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana melihat potensi saham-saham di indeks sektor teknologi menarik. Akan tetapi, saham-saham tersebut memiliki kapitalisasi pasar yang cenderung mini dibandingkan sektor lainnya di BEI sehingga tidak likuid.

“Secara potensi menarik, problem utama ada di kapitalisasi yang cenderung masih kecil,” kata Wawan, Kamis (28/1/2021).

Dari data yang dihimpun Bisnis, kapitalisasi pasar konstituen indeks sektor teknologi ini berkisar antara Rp17,46 miliar - Rp14,24 triliun.

Kapitalisasi pasar terbesar dicatatkan oleh DCII sementara kapitalisasi pasar terkecil dimiliki oleh PT Tourindo Guide Indonesia Tbk (PGJ).

Hanya terdapat 9 saham yang memiliki market cap di atas Rp1 triliun, sedangkan sisanya berada di bawah Rp500 miliar.

Dari sisi likuiditas dan kapitalisasi pasar, jelas saham-saham di indeks sektor teknologi berbeda dengan saham-saham teknologi di luar negeri.

Misalnya, emiten teknologi di Amerika Serikat banyak berasal dari pemain utama di sektor tersebut yaitu kelompok FAANG (Facebok, Amazon, Netflix, dan Alphabet atau Google).

Wawan menilai saham-saham dalam indeks sektor teknologi ini tetap dapat dilirik oleh manajer investasi untuk dijadikan aset dasar produk reksa dana.

Adapun, sejumlah reksa dana syariah global milik MI mencatatkan kinerja moncer pada tahun lalu karena mengoleksi saham-saham sektor teknologi di luar negeri seperti Amerika Serikat dan China.

“Untuk reksa dana dengan dana kelolaan kecil mungkin bisa tapi kalau dana kelolaan sudah diatas Rp250 miliar saya rasa masih cukup berisiko,” imbuh Wawan.

Head of Investment Avrist Asset Management Farash Farich menambahkan bahwa faktor likuiditas menjadi sorotan utama manajer investasi dalam memilih saham untuk dijadikan underlying asset reksa dana.

“Sementara kelihatannya belum ada saham yang likuid di indeks [teknologi] ini. Jadi, mungkin kita lebih tunggu saham kapitalisasi lebih besar dan likuid masuk di indeks ini,” ujar Farash.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG Indeks BEI teknologi DCI Indonesia
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top