Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Aduh Kasihan, Empat Saham Farmasi Lagi-lagi Mepet Auto Reject Bawah

Sebanyak tiga emiten farmasi mencetak koreksi secara konsisten sejak 13 Januari 2021.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 25 Januari 2021  |  16:17 WIB
Pengunjung berada didekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di lantai Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Jumat (13/3/2020). Bisnis - Dedi Gunawan
Pengunjung berada didekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di lantai Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Jumat (13/3/2020). Bisnis - Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - Sejumlah saham sektor farmasi tak hanya berada di zona merah secara bersamaan. Setidaknya terdapat 4 di antaranya yang mepet menyentuh batas auto reject bawah (ARB) pada perdagangan Senin (25/1/2021).

Mengutip data RTI pada penutupan, Senin (25/1/2021), hanya ada 2 emiten farmasi yang ditutup di zona hijau, yaitu PT Darya Varia Laboratoria Tbk. (DVLA) naik 2,06 persen ke level 2.480 dan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO) yang tumbuh 0,68 persen ke level 740.

Adapun, sisanya berada di zona merah, bahkan saham PT Indofarma Tbk. (INAF), PT Kimia Farma Tbk. (KAEF), PT Phapros Tbk. (PEHA), dan PT Itama Ranoraya Tbk. (IRRA) hampir mengalami auto reject bersamaan.

Penurunan masing-masing yakni INAF turun 6,99 persen ke level 3.990, KAEF turun 6,94 persen ke level 4.160, PEHA turun 6,71 persen ke level 1.530, dan IRRA yang turun 6,61 persen ke level 2.400.

Adapun sisanya, PT Pyridam Farma Tbk. (PYFA) turun 5,88 persen, PT Millennium Pharmacon International Tbk. (SPDC) turun 3,28 persen, PT Tempo Scan Pacific Tbk. (TSPC) turun 3,27 persen, PT Merck Tbk. (MERK) turun 3,04 persen, dan PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) turun 0,62 persen.

Saham INAF, KAEF, IRRA secara konsisten turun sejak 13 Januari 2021. Adapun saham IRRA dalam sembilan sesi terakhir sempat menguat sebanyak dua sesi.

Sebelumnya, Analis RHB Sekuritas Vanessa Karmajaya menuturkan kenaikan harga saham farmasi pada awal 2021 sebagai dampak dari sentimen vaksinasi saja. Ketika vaksinasi terhadap Presiden Jokowi dilakukan, saham-saham farmasi mulai berguguran.

"Tren farmasi kemarin lebih ke sentimen, secara fundamental tidak berubah dari segi angka, lebih ke arah sentimen saja. Karena sentimen vaksin, fundamental masih sama, kalau merosot terus seperti saat ini ya kembali ke posisinya," ujarnya kepada Bisnis, Senin (18/1/2021).

Selain itu, sejak awal tahun, banyak sentimen yang melambungkan kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG), sehingga euforianya juga turut terasa pada sektor farmasi. Setelah vaksinasi, terangnya, indeks komposit pun sempat memerah dan cenderung stagnan di level 6.400 setelah vaksinasi mulai dilakukan.

Dia menjelaskan ke depan sejumlah emiten yang terkait dengan sektor kesehatan masih menarik, terutama PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) dan emiten rumah sakit.

Vannesa menghimbau agar masyarakat yang menjadi investor baru di pasar modal harus lebih hati-hati menghadapi tren kenaikan sejumlah saham apalagi di tengah berbagai isu seperti saat ini.

"Ke depan investor harus lebih bijaksana di pasar saham, emiten itu harus dilihat jangka panjangnya kalau mau berinvestasi di pasar saham," ungkapnya.

Kinerj Saham Farmasi 25 Januari 2021
Kode EmitenHarga PenutupanPerubahan
INAF3.990-6,99%
KAEF4.160-6,94%
PEHA1.530-6,71%
IRRA2.400-6,61%
PYFA880-5,88%
SPDC118-3,28%
KLBF1.605-0,62%
SIDO740+0,68%
DVLA2.480+2,06%

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG farmasi indofarma emiten farmasi kimia farma vaksinasi
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top