Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Lesu di Awal Tahun, Reksa Dana Pendapatan Tetap Masih Prospektif

Saat ini harga obligasi tengah dalam tren penurunan, salah satunya terkait credit default swap (CDS) 5 tahun Indonesia yang naik ke level 74,42.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 18 Januari 2021  |  19:30 WIB
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis - Himawan L Nugraha
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA — Penurunan harga obligasi dan sikap investor yang mulai beralih ke aset berisiko menjadi penekan kinerja reksa dana pendapatan tetap di awal tahun ini. Namun, reksa dana berbasis obligasi ini dinilai masih prospektif hingga akhir tahun.

Berdasarkan data Infovesta Utama per 15 Januari 2021, reksa dana pendapatan tetap yang merupakan jawara tahun lalu mencetak kinerja negatif. Imbal hasil investasi kolektif berbasis obligasi tersebut -0,72 persen secara year to date.

Sebaliknya, dalam periode yang sama reksa dana saham memimpin dengan mencetak imbal hasil 5,30 persen. Diikuti oleh reksa dana campuran 3,13 persen dan reksa dana pasar uang 0,16 persen.

Sebagai perbandingan, untuk periode 1 Januari—30 Desember 2020, reksa dana pendapatan tetap mencetak imbal hasil paling tinggi yakni 8,99 persen. Kemudian reksa dana pasar uang 4,61 persen, reksa dana campuran 0,36 persen dan reksa dana saham -10,29 persen.

Head of Market Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan saat ini harga obligasi tengah dalam tren penurunan, salah satunya terkait credit default swap (CDS) 5 tahun Indonesia yang naik ke level 74,42.

“Persepsi risiko obligasi pemerintah sedang meningkat, sebagai akibatnya jadi harganya turun,” kata Wawan ketika dihubungi Bisnis, Senin (18/1/20221)

Di sisi lain, Wawan juga menyebut banyak investor yang mulai beralih ke aset yang lebih berisiko seperti saham. Pasalnya, sepanjang tahun lalu harga obligasi naik signifikan sehingga investor mulai melakukan profit taking dan pindah kelas aset.

“Kemungkinan ke saham karena saham lagi [naik] besar-besaran sekali. Kalau liat dari sisi nilai tukar meskipun harga obligasi turun tapi nilai tukar kita masih stabil jadi kemungkinan besar itu yang profit taking—switching aja,” jelasnya.

Meksi saat ini kinerja reksa dana pendapatan tetap masih negatif, Wawan menyebut jenis investasi kolektif satu ini masih prospektif karena imbal hasil reksa dana pendapatan tetap bukan hanya dari selisih harga tapi ada pendapatan kupon.

“Jadi menurut saya untuk menuju target kami 7 persen di akhir tahun masih on track,” tukas dia.

Sementara itu, untuk kelas aset saham, seiring dengan tren positif yang terjadi Wawan menilai valuasi saham saat ini sudah tak lagi murah karena telah naik tinggi sejak akhir tahun lalu. Tercatat, per penutupan pasar Senin (18/1/2021) IHSG parkir di level 6389,83.

Bahkan, dia memperkirakan akan terjadi penurunan di pasar saham dalam jangka pendek dikarenakan aksi profit taking. Apalagi saat ini investor mulai menantikan laporan kinerja perusahaan untuk tahun buku 2020.

Senada, Head of Investment Avrist Asset Management Farash Farich juga masih memiliki estimasi positif untuk kinerja reksa dana pendapatan tetap tahun ini dengan keuntungan lebih banyak bersumber dari kupon dibandingkan capital gain.

Dia juga mengamini bahwa investor global saat ini tengah merotasi invetasinya ke aset berisiko termasuk saham seiring tema perbaikan ekonomi di tahun ini yang dibaca sebagai pertumbuhan laba emiten. Pun, manajer investasi turut memasang strategi.

“Dengan kondisi ini kami fokus investasi di saham dan obligasi yang likuid dan fundamental baik dan mengurangi konsentrasi berlebihan di satu dua sektor,” pungkasnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG Obligasi reksa dana
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top