Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Prospek Positif, Capital Inflow ke Pasar Saham Indonesia Diprediksi Semakin Deras

Potensi lebih banyaknya investor asing masuk ke pasar saham Indonesia masih terbuka lebar. Salah satu penopang hal ini adalah terpilihnya Joe Biden sebagai Presiden Amerika Serikat.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 13 Januari 2021  |  15:59 WIB
Pengunjung berada di dekat papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (17/7/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Pengunjung berada di dekat papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (17/7/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Tren aliran dana asing yang masuk ke pasar saham Indonesia (capital inflow) diprediksi akan terus berlanjut sepanjang 2021 seiring dengan terpilihnya Joe Biden sebagai Presiden Amerika Serikat dan kondisi pasar domestik yang optimal.

Kepala Riset Mirae Asset Sekuritas Indonesia Hariyanto Wijaya menjelaskan, potensi lebih banyaknya investor asing masuk ke pasar saham Indonesia masih terbuka lebar. Salah satu penopang hal ini adalah terpilihnya Joe Biden sebagai Presiden Amerika Serikat.

Hariyanto menjelaskan, kemenangan Biden dan keberhasilan Partai Demokrat menguasai Parlemen AS akan mempemulus agenda-agenda yang akan dilakukan oleh Mantan Wakil Presiden AS di era kepemimpinan Presiden Barack Obama tersebut.

Salah satu langkah yang telah disiapkan Biden adalah menaikkan pajak di AS. Hal tersebut akan membuat investor asing berpaling dari AS dan mencari pasar emerging market seperti Indonesia untuk menaruh dananya.

“Pada dasarnya investor pasti akan menghindari pajak yang besar untuk memaksimalkan return. Di sisi lain, pertumbuhan pasar saham AS juga mulai terbatas setelah melonjak besar-besaran beberapa waktu lalu,” katanya dalam Media Gathering Mirae Asset Sekuritas secara daring pada Rabu (13/1/2021).

Menurut Hariyanto, kebanyakan dari investor asing tersebut akan memilih Indonesia sebagai lahan berinvestasi. Salah satu faktor pendukung hal ini adalah pemberlakuan Undang-Undang Cipta Kerja yang mempermudah masuknya investor asing ke Indonesia.

Selain itu, pembentukan sovereign wealth fund (SWF) oleh pemerintah juga semakin meningkatkan daya tarik berinvestasi di Indonesia. Hal tersebut menunjukkan komitmen dan kesediaan pemerintah Indonesia untuk melibatkan investor dalam pembangunan negara.

Di sisi lain, Hariyanto menilai kondisi fundamental pasar saham domestik juga masih baik. Pasar saham di Indonesia masih menawarkan valuasi yang lebih murah ketimbang emerging market lainnya.  Hal ini juga ditambah dengan potensi pertumbuhan pasar Indonesia yang pesat.

“Dengan faktor-faktor tersebut, potensi capital inflow sepanjang tahun sangat baik sehingga peluang net buy di akhir tahun juga terbuka lebar,” jelasnya.

Meski demikian, Hariyanto tidak memungkiri potensi volatilitas pasar yang masih akan terjadi pada tahun ini. Salah satu faktor yang berpeluang menghambat datangnya modal asing adalah vaksinasi yang dilakukan Indonesia.

Ia menjelaskan, proses vaksinasi yang bermasalah dapat menimbulkan kekhawatiran pelaku pasar terkait terhambatnya pemullihan ekonomi di Indonesia. Hal tersebut dapat membuat investor asing kembali menarik dananya dari Indonesia.

Selain itu, kinerja keuangan perusahaan di kuartal I/2021 juga berpotensi memperlambat laju penguatan pasar dan masuknya dana asing.

Adapun Mirae merekomendasikan pilihan utama saham-saham komoditas seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO). ANTM dan INCO dipilih karena penerima manfaat dari kenaikan harga nikel seiring dengan naiknya permintaan dari produksi baja dan baterai untuk kendaraan listrik.

Saham komoditas lain yang menjadi rekomendasi adalah emiten perkebunan PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dan PT United Tractors Tbk (UNTR) yang memiliki portofolio tambang emas.

“LSIP akan terdorong kenaikan harga CPO, sedangkan UNTR juga masuk pilihan karena memperhitungkan dampak positif dari kenaikan harga emas,” jelasnya.

Ia juga merekomendasikan emiten unggas PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) dan emiten sektor perbankan, yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI).


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pasar saham capital inflow
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top