Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Investor Ritel Naik, Momentum  Tepat Untuk Stock Split?

Aksi stock split atau pemecahan nominal saham dinilai menjadi momentum tepat bagi emiten untuk menggenjot likuiditas saham di pasar.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 12 Januari 2021  |  07:30 WIB
Papan elektronik menampilkan perdagangan harga saham di Jakarta, Senin (23/3/2020). Bisnis - Dedi Gunawan
Papan elektronik menampilkan perdagangan harga saham di Jakarta, Senin (23/3/2020). Bisnis - Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - Kenaikan jumlah investor ritel dinilai menjadi momentum tepat bagi emiten untuk menggelar stock split atau memecah nominal saham agar harga saham lebih likuid dan terjangkau bagi investor.

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, sedikitnya ada tiga emiten yang sudah atau berencana menggelar stock split. Ketiga emiten itu yakni PT MNC Studios Internasional Tbk. (MSIN), PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK), dan PT Buyung Poetra Sembada Tbk.(HOKI)

EMTK resmi melakukan stock split kemarin dengan rasio 1:10 atau dari dari Rp200 menjadi sebesar Rp20. Hari pertama stock split, EMTK melesat 13,19 persen atau 215 poin dan parkir di level Rp1.845 per saham. 

Sebelumnya MSIN juga melakukan stock split dengan rasio 1:2. Adapun HOKI akan menyusul setelah mendapat persetujuan pemegang saham pada 27 Januari 2021 mendatang. HOKI bakal melakukan stock split dengan rasio 1:4.

Head of Market Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan bahwa prospek emiten untuk melaksanakan pemecahan nilai nominal saham atau stock split saat ini positif.

Hal itu seiring dengan tren volume dan frekuensi transaksi harian dalam beberapa perdagangan terakhir cenderung naik signifikan, mengingat terdapat peningkatan jumlah investor domestik, terutama ritel, yang terjadi pada tahun lalu.

Untuk diketahui, Kustodian Sentral  Efek Indonesia (KSEI) mencatat, jumlah investor saham yang terefleksi dari single investor identification (SID) pada 2020 sebesar 1,69 juta, melonjak 53,47 persen dari akhir 2019.

“Dengan demikian, kalau emiten memang mengincar sahamnya untuk lebih likuid, strategi stock split dengan momentum saat ini bisa dijadikan pertimbangan,” ujar Wawan kepada Bisnis, Kamis (7/1/2021).

Dia menjelaskan, aksi stock split tersebut akan membuat harga saham yang diperdagangkan menjadi lebih terjangkau sehingga semakin memudahkan investor, terutama ritel, untuk melakukan transaksi saham.

Adapun, saham dengan frekuensi transaksi perdagangan yang tinggi kerap dinilai sebagai saham likuid, sehingga potensi investor mendapatkan keuntungan (gain) terbuka lebar.

Dia menilai emiten big caps dengan harga yang sudah berada di kisaran level atas Rp10.000 per saham diproyeksi akan mendapatkan respon yang sangat positif dari pasar jika menggunakan momentum saat ini untuk melakukan stock split.

Kendati demikian, Wawan memperingatkan bahwa stock split memang cenderung akan membuat pergerakan saham lebih mudah naik sesuai dengan ketentuan fraksi harga saham, tetapi begitu juga semakin mudah untuk bergerak turun.

Oleh karena itu, Wawan mengatakan bahwa para emiten juga harus seksama mengkaji beberapa pertimbangan lainnya sebelum akhirnya memutuskan untuk melakukan stock split.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG stock split
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top