Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Saham Kena Suspensi, Ini Penjelasan Itama Ranoraya (IRRA)

Perseroan menjelaskan kepada BEI bahwa kinerja tahun ini didukung semua dari suplai jarum suntik dan dari Panbio antigen.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 12 Januari 2021  |  15:02 WIB
Jajaran Direksi dan Komisaris PT Itama Ranoraya Tbk. saat seremoni pencatatan perdana saham perseroan di Bursa Efek Indonesia pada Selasa (15/10/2019). - Bisnis - Azizah Nur Alfi
Jajaran Direksi dan Komisaris PT Itama Ranoraya Tbk. saat seremoni pencatatan perdana saham perseroan di Bursa Efek Indonesia pada Selasa (15/10/2019). - Bisnis - Azizah Nur Alfi

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini melakukan suspensi terhadap saham distributor jarum suntik PT Itama Ranoraya Tbk menyusul lonjakan harga saham yang tidak wajar.

Merespons atas suspensi saham tersebut, emiten dengan kode saham IRRA tersebut mengungkapkan kinerjanya naik hampir 90 persen sepanjang 2020. Penjualan barang-barang terkait Covid-19 pun cukup moncer.

Direktur Keuangan IRRA Pratoto S Raharjo mengklaim aktivitas perusahaannya secara fundamental cukup baik sesuai dengan berbagai pemberitaan yang sudah dikeluarkannya.

"Jadi sebetulnya memang kalau IRRA ini secara fundamental cukup bagus dengan berita-berita yang kami keluarkan. IRRA ada produk Panbio antigen test jadi dengan adanya aturan pemerintah itu antigen test kami bisa suplai karena stok Desember 2020 sudah paling banyak terjual," katanya kepada Bisnis, Selasa (12/1/2021).

Dia menyebut pihaknya menjadi distributor bagi peralatan rapid test antigen dari Abbot yang merupakan salah satu dari dua alat rapid test antigen yang direkomendasikan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Dengan demikian, penjualannya di Indonesia semakin tinggi apalagi pemerintah mewajibkan adanya rapid test antigen bagi masyarakat yang bepergian menggunakan angkutan udara dan kereta api. Selain itu, batas waktu berlakunya rapid antigen pun dipangkas dari 14 hari menjadi hanya 3 hari, artinya aktivitas pengetesan menjadi semakin banyak.

"Kalau ada Unusual Market Activity [UMA] memang kami dipanggil BEI dan menjelaskan kinerja tahun ini didukung semua dari suplai jarum suntik dan dari Panbio antigen, bahkan Januari 2021 ini baru berjalan dua pekan kami sudah jualan 1,5 juta unit alat rapid antigen," paparnya.

Adapun, penjualannya alat rapid test antigennya dari Oktober--Desember 2021 mencapai 2,4 juta alat ters dengan 26 persen dibeli oleh pemerintah melalui BNPB.

"Kami masih yakin antigen test masih dipakai, aturan itu dahulu 14 hari jadi berlaku 7 hari, jadi hanya 3 hari, kemungkinan test jadi semakin banyak, kami bantu pemerintah suplai. Kami intinya bantu pemerintah tangani pandemi ini, ini satu produk yang sedang gencarnya," ujarnya.

Sementara itu, penjualan jarum suntik pun sudah menunjukkan peningkatan. Pasalnya, sepanjang 2020 pihaknya sudah menjual 111 juta syringe jarum suntik kepada pemerintah. Apalagi, pemerintah menargetkan menyuntikan 400 juta dosis vaksin Covid-19 pada 2021.

Sebelumnya, pada 8 Januari 2021, BEI mengeluarkan pengumuman UMA atas saham IRRA. Kendati demikian, kondisi tersebut tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap regulasi di bidang pasar modal.

"Sehubungan dengan terjadinya peningkatan harga kumulatif yang signifikan pada Saham PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA), dalam rangka cooling down, PT Bursa Efek Indonesia memandang perlu untuk melakukan penghentian sementara perdagangan Saham PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA), pada perdagangan tanggal 12 Januari 2021," papar BEI.

Pada perdagangan Senin (11/1/2021), saham IRRA ditutup menguat 740 poin atau 25 persen ke level 3.700. Saham IRRA diperdagangkan sebanyak 165 juta lembar dengan nilai Rp582,05 miliar.

Hingga lima sesi di tahun berjalan, IRRA mencetak rekor sempurna alias seluruhnya ditutup menghijau. Secara kumulatif harga saham IRRA sudah naik 117 persen sejak 4 Januari 2021.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa efek indonesia suspensi saham Itama Ranoraya
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top