Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Akhir 2020, Dana Kelolaan Reksa Dana Tembus Posisi Tertinggi Sepanjang Sejarah

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per 30 Desember 2020, nilai aktiva bersih (NAB) produk reksa dana secara industri mencapai nilai Rp573,54 triliun dengan unit penyertaan sebanyak 435,14 miliar unit.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 11 Januari 2021  |  16:48 WIB
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis - Himawan L Nugraha
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA — Dana kelolaan industri reksa dana menyentuh rekor tertinggi sepanjang sejarah per akhir 2020. Di sisi lain, secara tahunan pertumbuhan sepanjang 2020 menjadi yang paling minim dalam 5 tahun terakhir.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per 30 Desember 2020, nilai aktiva bersih (NAB) produk reksa dana secara industri mencapai nilai Rp573,54 triliun dengan unit penyertaan sebanyak 435,14 miliar unit.

Realisasi ini menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah reksa dana di Indonesia. Tercatat, sebelumnya NAB reksa dana mencapai level tertinggi Oktober 2019 yakni sebesar Rp553,26 triliun.

Kendati demikian, jika dilihat secara tahunan, posisi NAB reksa dana secara industri per akhir 2020 hanya tumbuh 5,79 persen secara year on year, dibandingkan posisi NAB reksa dana per akhir 2019 yang sebesar Rp542,17 triliun.

Presentase tersebut juga menjadi pertumbuhan tahunan yang paling minim setidaknya selama 5 tahun terakhir. Berturut-tutut pertumbuhan tahun sebelumnya adalah sebesar 7,3 persen (2019), 10,5 persen (2018), 35,1 persen (2017), dan 24,60 persen (2016).

Dana kelolaan reksa dana tahun ini tak kebal dari dampak pandemi yang melanda. NAB reksa dana pernah susut hingga menyentuh Rp471,87 triliun per Maret 2020, posisi ini terendah sejak akhir 2017 silam.

Begitu pula unit penyertaan reksa dana sempat berkurang hingga tersisa 405,71 miliar, jumlah terendah sejak Agustus 2018, akibat tingginya redemption atau pencairan reksa dana.

Di sisi lain, secara kinerja, sepanjang tahun berjalan indeks reksa dana pun sempat ikut terjun bebas.

Mengacu data Infovesta Utama, imbal hasil indeks reksa dana saham ambruk paling dalam hingga menyentuh -29,52 persen per akhir Maret 2020, diikuti indeks reksa dana campuran -17,06 persen, serta reksa dana pendapatan tetap -2,20 persen, sedangkan reksa dana pasar uang tetap aman.

Akan tetapi, seiring pemulihan pasar yang mulai terjadi sejak pertengahan tahun, kinerja industri reksa dana pun turut kembali bersinar.

Dalam periode 1 Januari 2020 hingga 30 Desember 2020, reksa dana pendapatan tetap berhasil membukukan kinerja paling moncer dengan imbal hasil 8,99 persen.

Kemudian, diikuti oleh reksa dana pasar uang di posisi kedua dengan imbal hasil tahunan 4,61 persen dan diposisi ketiga ada reksa dana campuran dengan kinerja 0,36 persen.

Adapun, reksa dana saham harus rela ada di ranking paling bontot. Tercatat, indeks reksa dana saham masih terkoreksi 10,29 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

reksa dana dana kelolaan
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top