Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Yield US Treasury Sentuh 1 Persen, Investor Asing Lirik Pasar SBN Indonesia

Kenaikan yield US Treasury ke level 1 persen akan berimbas positif pada pasar Surat Utang Negara (SUN) Indonesia.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 08 Januari 2021  |  07:33 WIB
Ilustrasi OBLIGASI. Bisnis - Abdullah Azzam
Ilustrasi OBLIGASI. Bisnis - Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Tingkat imbal hasil (yield) obligasi AS (US Treasury) yang telah menyentuh 1 persen dinilai akan meningkatkan daya tarik Surat Utang Negara (SUN) Indonesia. Potensi masuknya investor asing ke pasar SUN domestik dalam jumlah besar pun semakin terbuka.

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto mengatakan, kenaikan yield US Treasury ke level 1 persen akan berimbas positif pada pasar Surat Utang Negara (SUN) Indonesia.

Hal tersebut membuka potensi penurunan yield surat utang Indonesia, sehingga kenaikan harga pun juga masih mungkin terjadi.

Tingkat imbal hasil yang atraktif di Indonesia pun akan membuat Surat Utang Negara Indonesia semakin dilirik oleh investor asing. Hal tersebut juga ditambah dengan sentimen penerbitan global bond yang dilakukan pemerintah Indonesia pada awal tahun ini.

Ramdhan menjelaskan, penerbitan global bond di luar negeri akan memberikan informasi komprehensif kepada investor terkait kondisi pasar surat utang Indonesia. Hal ini dapat menarik kembali investor yang sebelumnya keluar dari obligasi Indonesia.

“Kondisi pasar SUN Indonesia yang memiliki tingkat likuiditas optimal, akan semakin meningkatkan daya tarik SBN Indonesia di mata investor asing,” jelasnya saat dihubungi pada Kamis (7/1/2021).

Selain itu, rekam jejak penerbitan SBN Indonesia yang baik juga berpotensi memicu kedatangan investor-investor asing baru. Hal tersebut, lanjutnya, akan berdampak pada naiknya tingkat kepemilikan asing terhadap Surat Utang Negara Indonesia.

“Yield kita masih sangat menarik dibandingkan negara emerging market lain. Apalagi, sebelum terjadinya pandemi, sebenarnya investor asing sudah merasa nyaman menaruh dananya,” ujarnya.

Lebih lanjut, daya tarik SUN Indonesia juga diperkuat dengan tren suku bunga acuan rendah yang diberlakukan oleh bank sentral di dunia. Langkah tersebut membuat para investor asing berusaha mencari instrumen-instrumen investasi dengan tingkat ketahanan yang kuat dan return yang menjanjikan.

“Dengan tingkat permintaan yang tinggi dari investor dan tren tingkat imbal hasil yang kian membaik, return dari SBN Indonesia akan semakin menarik. Sehingga, potensi kepemilikan asing kembali ke kisaran 40 persen pada tahun ini menjadi semakin terbuka,” tuturnya.

Senada, Head of Fixed Income Research BNI Sekuritas Ariawan mengatakan, tingkat permintaan investor asing terhadap SUN Indonesia akan naik seiring dengan pergerakan yield US Treasury yang menyentuh level 1 persen.

Ia menjelaskan, kendati spread imbal hasil antara SUN Indonesia dan US Treasury mengalami penyempitan, pasar surat utang domestik akan tetap menjadi pilihan investor asing.

Hal ini terjadi seiring dengan meredanya tekanan eksternal yang membuat para investor asing lebih agresif untuk masuk ke aset-aset berisiko di emerging market, seperti Indonesia.

Kendati demikian, Ariawan mengatakan potensi kenaikan tingkat kepemilikan asing pada SBN Indonesia untuk mencapai kisaran 40 persen kemungkinan belum akan terjadi pada tahun ini.

Ia menjelaskan, masuknya aliran dana asing akan dibarengi dengan kenaikan total outstanding SBN Indonesia seiring dengan strategi agresif pemerintah yang menerbitkan SUN dalam jumlah besar.

“Kepemilikan asing kemungkinan akan naik, tetapi untuk mencapai 40 persen cukup sulit. Setidaknya, catatan net sell pada tahun lalu bisa kembali masuk di tahun ini,” ujarnya.

Ariawan melanjutkan, potensi return yang didapatkan dari SUN Indonesia akan tetap menarik meskipun tidak sesignifikan tahun lalu. Ia memaparkan, penurunan imbal hasil pada periode akhir 2019 hingga akhir 2020 berada di kisaran 110 basis poin.

Sementara itu, pada tahun ini, penguatan imbal hasil diperkirakan tidak akan mencapai level yang sama. Hal ini seiring dengan kebijakan suku bunga acuan rendah yang diberlakukan Bank Indonesia dan prospek pemulihan ekonomi global yang akan terjadi tahun ini.

“Penurunan yield tahun ini sepertinya berada di kisaran 30 hingga 50 basis poin, sehingga potensi return yang didapat kemungkinan sekitar 9 persen sampai 10 persen,” jelasnya.

Ekonom Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro dalam laporannya mengatakan yield US Treasury yang lebih tinggi dinilai akan berdampak positif bagi pasar surat utang Indonesia.

Ia menjelaskan, seiring dengan pergerakan yield US Treasury, tingkat imbal hasil obligasi Indonesia dengan tenor 10 tahun sebesar 5,9 persen masih sangat menarik.

Imbal hasil yang ditawarkan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan obligasi negara ASEAN lain seperti Vietnam, Filipina, dan Malaysia yang rata-rata memiliki yield sebesar 2 persen.

Berdasarkan penghitungannya, dengan tingkat imbal hasil US Treasury di level 1 persen, maka yield obligasi Indonesia akan mengarah ke posisi 5,45 persen. Sementara itu, apabila imbal hasil US Treasury naik ke 1,5 persen, maka tingkat imbal hasil surat utang Indonesia akan berada di kisaran 5,7 persen.

Meski demikian, Satria menuturkan, tingkat imbal hasil obligasi AS yang lebih tinggi akan berdampak positif bagi pasar surat utang Indonesia. Pasalnya, tingkat yield US Treasury yang naik mengindikasikan peralihan investor dari aset-aset safe haven ke aset berisiko.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi Obligasi Pemerintah
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top