Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Analis Jagokan Saham Anak Usaha BUMN Konstruksi, Ini Alasannya

Saham emiten anak BUMN dari sektor konstruksi sangat menarik karena garapan proyek-proyek yang tertunda pada 2020 akan segera dilanjutkan pada 2021.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 07 Januari 2021  |  08:48 WIB
Batching plant PT Wijaya Karya Beton Tbk. - wika/beton.co.id
Batching plant PT Wijaya Karya Beton Tbk. - wika/beton.co.id

Bisnis.com, JAKARTA – Analis menjagokan saham anak usaha BUMN yang bergerak di sektor konstruksi untuk dicermati. Rencana ekspansi dari induk usahanya seperti PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk., dan PT PP (Persero) Tbk. diperkirakan bakal ikut mengerek kinerja enititas anak.

Analis Artha Sekuritas Dennies Christoper Jordan menjelaskan bahwa saham emiten anak BUMN dari sektor konstruksi sangat menarik karena garapan proyek-proyek yang tertunda pada 2020 akan segera dilanjutkan pada 2021.

“Sehingga potensi perolehan kontrak baru emiten konstruksi di 2021 akan lebih baik. Kalau perolehan kontrak baru bisa tinggi berarti kinerja akan kembali bertumbuh,” kata Dennies kepada Bisnis, Rabu (6/1/2021).

PT Waskita Karya (Persero) Tbk. misalnya, menargetkan perolehan kontrak baru senilai Rp31,6 triliun pada 2021. Target nilai kontrak baru itu naik 16,6 persen dibandingkan target NKB pada 2020 yang senilai Rp27,1 triliun.

Tak hanya Waskita,  PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. juga membidik nilai kontrak baru senilai yang naik signifikan pada 2021 senilai Rp40 triliun. Target tersebut naik 87,17 persen dari target nilai kontrak baru tahun ini yang senilai Rp21,37 triliun.

Selanjutnya, PT PP (Persero) Tbk. menargetkan perolehan kontrak baru hingga Rp28 triliun pada tahun ini atau naik 7,69 persen dibandingkan target kontrak baru pada 2020 yang senilai Rp26 triliun.

Di sisi lain, Dennies menyebut saham anak BUMN dari sektor keuangan juga sudah rebound pada pengujung 2020. Namun, hal itu dinilainya lebih disebabkan oleh sentimen aksi korporasi seperti PT Bank BRIsyariah Tbk. dengan isu merger bank syariah dan PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk. terkait beberapa aksi korporasi dan rencana ekspani.

Dennies pun merekomendasikan saham-saham anak BUMN sektor konstruksi seperti WSBP, WEGE, WTON, PPRE, dan PPRO untuk dikoleksi pada tahun ini.

Sedana, Analis Binaartha Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama mengatakan hampir seluruh saham anak BUMN berada pada posisi uptrend sejak akhir 2020.

“Ini menunjukkan investor sangat mengapresiasi, seperti kinerja, tata kelola, dan rencana aksi korporasi dari emiten untuk meningkatkan kinerja fundamental di tengah-tengah potensi terjadinya pemulihan ekonomi,” tutur Nafan.

Selain itu, pilihan investor untuk mengoleksi saham anak BUMN juga didorong oleh potensi pembagian dividen. Menurut Nafan, keluarga BUMN menjadi sekelompok perusahaan yagn rajin menebar dividen sehingga investor berkomitmen untuk memegang sahamnya dalam jangka panjang.

Namun demikian, Nafan melihat saham sektor barang konsumer saat ini mulai mengalami bullish consolidation atau pelemahan harga sementara.

Nafan pun masih memberikan rekomendasi take profit di harga pasar untuk saham ELSA, GMFI, WSBP, PPRO, dan WTON. Sementara IPCC dan WEGE diberi rekomendasi tahan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

emiten konstruksi rekomendasi saham bumn konstruksi
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top