Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Seng Tersulut Anjloknya Produksi China

Berdasarkan data Bloomberg, harga seng di bursa London ditutup menguat 13 poin atau 0,47 persen ke level US$2.799,5 per ton pada perdagangan Selasa (8/12/2020).
Ilustrasi logam mineral/Reuters-Yuriko Nakao
Ilustrasi logam mineral/Reuters-Yuriko Nakao

Bisnis.com, JAKARTA – Harga seng menuju level harga tertinggi dalam setahun belakangan didorong oleh sentimen kekhawatiran atas penurunan produksi China dan harapan untuk kesepakatan stimulus AS.

Berdasarkan data Bloomberg, harga seng di bursa London ditutup menguat 13 poin atau 0,47 persen ke level US$2.799,5 per ton pada perdagangan Selasa (8/12/2020).

Harga seng sendiri ditutup menguat selama empat hari beruntun dengan kenaikan signifikan sebesar 1,07 persen pada perdagangan, Senin (7/12/2020). Secara year to date, harga seng sudah menguat 23,22 persen.

Mengutip dari survei bulanan pabrik peleburan, Shanghai Metal Market menyatakan output produsen utama seng olahan di China turun menjadi 562.300 ton pada November, berkurang 6.900 ton dari bulan Oktober lalu.

Analis juga mengungkap bahwa produksi diperkirakan juga masih akan turun pada bulan ini akibat penurunan biaya pemrosesan yang membatasi margin. Biaya perawatan untuk pemrosesan konsentrat seng pada smelter di China juga merosot ke level terendahnya dalam dua tahun.

“Pasokan seng China mungkin akan mengalami pengetatan di masa depan karena TC (treatment charge/biaya perawatan) yang turun sebagian besar mempengaruhi laba penyulingan,” tulis China Futures Co. dalam sebuah catatan pada Rabu (9/12/2020).

Harga dua komoditas dasar yakni seng dan tembaga memang telah melonjak lebih dari 20 persen pada tahun ini, memimpin kenaikan di antara enam logam dasar di bursa London Metal Exchange (LME).

Harga tembaga di bursa London memang mengalami koreksi sebesar 0,14 persen menjadi US$7.699 per ton pada perdagangan Selasa (8/12/2020) kemarin. Tetapi, sejak awal tahun, harga tembaga sudah menguat 24,7 persen.

Pada saat yang bersamaan, China juga memimpin pemulihan global akibat dari pandemi Covid-19.

Harga logam dasarnya lainnya sebagian besar menguat disebabkan oleh ekuitas yang juga naik setelah rekor baru yang dicatatkan bursa saham Amerika Serikat dan harapan untuk kesepakatan stimulus meredakan kekhawatiran tentang lonjakan kasus baru virus mematikan tersebut.

Menteri Keuangan Amerika Serikat Steven Mnuchin baru-baru ini memberikan proposal dana bantuan sebesar US$916 miliar untuk penanganan Covid-19 kepada ketua DPR Nancy Pelosi. Nancy sendiri menyambut kemajuan dalam negosiasi meskipun dianggap sebagai bagian dari rencana yang tidak bisa diterima.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper