Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rebalancing Portofolio Kerek Minat Investor Terhadap SUN

Imbal hasil obligasi secara umum berpotensi semakin naik karena situasi dan kondisi politik dalam negeri yang cukup memanas. Dari sisi global, pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) akan mencuri perhatian.
Pialang memperhatikan Yield SUN Indonesia/Antara-Prasetyo Utomo
Pialang memperhatikan Yield SUN Indonesia/Antara-Prasetyo Utomo

Bisnis.com, JAKARTA — Permintaan terhadap instrumen surat utang negara masih tinggi menjelang akhir tahun seiring dengan momentum rebalancing portofolio investor. Institusi perbankan konvensional diprediksi masih bakal mendominasi kepemilikan.

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan pemerintah akan melelang tujuh seri surat utang negara (SUN) pada Selasa (3/11/2020). SUN yang ditawarkan terdiri atas dua seri surat perbendaharaan negara (SPN) dan lima obligasi negara (ON) dengan target indikatif Rp20 triliun dan target maksimal Rp40 triliun.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan lelang perdana November 2020 cukup menarik. Pasalnya, saat ini pasar obligasi berpotensi mengalami penurunan secara harga yang artinya akan berimbas terhadap kenaikan imbal hasil.

“Kenaikkan imbal hasil itu sendiri berpotensi semakin naik karena situasi dan kondisi politik dalam negeri yang cukup memanas khususnya pekan ini yang di mana akan ada demo buruh dalam jumlah besar yang mendorong ketidakpastian omnibus law yang ditunggu oleh banyak pihak menjadi terhambat,” paparnya kepada Bisnis, Minggu (1/11/2020).

Dari sisi global, lanjut dia, pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) akan mencuri perhatian. Selain itu, data produk domestik bruto (PDB) kuartal III/2020 juga akan ditunggu oleh para pelaku pasar meskipun hasil masih akan sesuai perkiraan.

Nico memprediksi penurunan harga obligasi masih akan sangat berpotensi terjadi meski dalam rentang terbatas. Oleh karena itu, kenaikkan imbal hasil akan menjadi sesuatu yang wajar.

Dia meyakini lelang SUN masih akan ramai peminat apalagi menjelang akhir tahun. Kondisi itu sejalan dengan investor yang juga akan melakukan rebalancing portofolio.

“Oleh sebab itu, ini akan menjadi momen bagi pelaku pasar dan investor masuk untuk mendapatkan obligasi dengan imbal hasil yang tinggi. [Prediksi penawaran masuk] Rp50 triliun—Rp60 triliun, lebih dari itu akan menjadi sesuatu yang menarik,” jelasnya.

Sebagai catatan, penawaran masuk dalam lelang SUN periode 20 Oktober 2020 mencapai Rp83,02 triliun. Nilai itu naik 67,8 persen dibandingkan dengan permintaan Rp49,47 triliun lelang sebelumnya.

Sebelumnya, Plt. Direktur SUN Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Deni Ridwan memberikan catatan bahwa partisipasi investor asing secara nominal dalam lelang SUN terakhir lebih tinggi dari lelang sebelumnya. Penawaran masuk dari investor asing naik dari sebelumnya Rp7,53 triliun menjadi Rp11,97 triliun.

DJPPR Kemenkeu mencatat porsi kepemilikan investor asing di SUN yang dapat diperdagangkan senilai Rp936,06 triliun atau setara dengan 31,62 persen sampai dengan Senin (26/10/2020). Porsi itu menciut dibandingkan dengan Rp1.033,41 triliun atau 45,58 persen pada akhir Desember 2019.

Perbankan konvensional kini menjadi institusi dengan porsi kepemilikan SUN yang dapat diperdagangkan terbesar. Tercatat, kepemilikan bank tembus Rp1.101,51 triliun atau setara 37,21 persen.

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto mengatakan porsi kepemilikan investor asing di SUN melorot dan kini digantikan oleh perbankan. Kondisi itu menurutnya akibat kebijakan dan stimulus yang memungkinkan bank lebih banyak masuk.

“Selama pandemi Covid-19, potensi perbankan meninkat besar. Fungsi intermediary juga menurun,” jelasnya.

Ramdhan memprediksi penawaran masuk dalam lelang SUN perdana November 2020 mencapai Rp60 triliun—Rp70 triliun. Menurutnya, kondisi pasar obligasi saat ini relatif landai dengan pergerakan yield sempit dan potensi penguatan terbatas.

Berdasarkan data laman resmi www.worldgovernmentbonds.comyield SUN Indonesia tenor 10 tahun berada di level 6,787 persen pada, Minggu (1/11/2020). Posisi itu turun dari 7,03 persen 1 bulan sebelumnya.

“Tren asing masuk perlahan mulai terlihat dengan besaran terbatas dan mereka pastinya masih mengamati pasar SUN. Potensi mereka masuk ke Indonesia masih cukup besar di tengah tren suku bunga rendah di pasar global,” paparnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper