Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kinerja Emiten Koleksi Investor Jepang Menggeliat

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, saat ini ada belasan emiten yang sahamnya dimiliki oleh investor asal Jepang. Kehadiran pemodal asal Negeri Sakura tersebar di beberapa sektor mulai dari keuangan hingga industri dasar.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 22 Oktober 2020  |  07:10 WIB
Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga (tengah) bersama Madam Suga Mariko (kedua kanan) melambaikan tangan setibanya di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (20/10/2020). Lawatan kenegaraan tersebut dalam rangka meningkatkan hubungan bilateral antarkedua negara.  - ANTARA\\r\\n
Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga (tengah) bersama Madam Suga Mariko (kedua kanan) melambaikan tangan setibanya di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (20/10/2020). Lawatan kenegaraan tersebut dalam rangka meningkatkan hubungan bilateral antarkedua negara. - ANTARA\\r\\n

Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja emiten-emiten dalam negeri yang menjadi portofolio investor Jepang mulai menunjukkan performa yang menanjak setelah sempat dihempaskan oleh penyebaran Covid-19.

Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga dan Presiden Joko Widodo telah melakukan pertemuan pada Selasa (20/10/2020). Sejumlah poin dibahas keduanya termasuk penguatan kerja sama di bidang ekonomi.

Jepang menjadi salah satu mitra strategis Indonesia. Realisasi investasi pemodal asal Negeri Sakura mencapai US$1,21 miliar atau setara 8,9 persen dari total penanaman modal asing pada semester I/2020.

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, saat ini ada belasan emiten yang sahamnya dimiliki oleh investor asal Jepang. Kehadiran pemodal asal Negeri Sakura tersebar di beberapa sektor mulai dari keuangan hingga industri dasar.

Sebagai gambaran, MUFG Bank, Ltd baik secara langsung maupun tidak langsung memegang kepemilikan 92,47 persen di PT Bank Danamon Tbk. (BDMN) per 30 September 2020. Selanjutnya, saham PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG Tbk. (LIFE) juga 80 persen dikuasai oleh Mitsui Sumitomo Insurance Co. Ltd.

Catatan laporan keuangan semester I/2020 menunjukkan ada beberapa emiten portofolio investor Jepang yang masih membukukan pertumbuhan laba bersih secara tahunan pada Juni 2020. Salah satunya perusahaan tambang batu bara PT Mitrabara Adiperdana Tbk. (MBAP).

MBAP mencetak kenaikan laba bersih 42,79 secara tahunan pada semester I/2020. Nilai yang dikantongi naik dari US$16,73 juta pada semester I/2019 menjadi US$23,89 juta per 30 Juni 2020.

Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan Frankie Wijoyo mengatakan investor Jepang cukup ekspansif di pasar Indonesia khususnya pasar efek. Pemodal asal negara itu menurutnya masuk ke sektor yang beragam seperti keuangan, pertambangan, properti, dan industri.

“Bukan hanya sekadar investasi, bahkan juga mengakuisisi seperti BTPN, BDMN, dan LIFE,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (21/10/2020).

Frankie mengatakan emiten-emiten yang dikantongi investor Jepang mulai menunjukkan performa harga saham yang menanjak. Kondisi itu berbalik dari tekanan akibat dampak Covid-19.

Dia mencontohkan beberapa emiten yang kinerja mulai menanjak seperti INCO, TINS, NIKL, dan BEST. Menurutnya, kebanyakan memang dari sektor pertambangan khususnya nikel

“Dirasa wajar, karena nikel digadang-gadang menjadi komoditas primadona pada beberapa tahun mendatang dari sentimen produksi baterai mobil listrik dan kebutuhan industri otomotif. Terlebih lagi, cadangan nikel Indonesia adalah jawara sedunia,” tuturnya.

Berdasarkan data Bloomberg, harga saham INCO menguat 3,63 persen ke level Rp4.280 pada akhir sesi Rabu (21/10/2020). Dalam 6 bulan terakhir, pergerakan saham emiten produsen nikel itu telah naik 85,28 persen.

Frankie mengatakan pertemuan Suga dengan Presiden Joko Widodo memberi angin segar bagi Indonesia. Salah satu bahasan terkait bantuan untuk penanggulangan Covid-19 sangat baik untuk menekan ketakutan masyarakat terhadap pandemi.

“Juga pembahasan kerja sama ekonomi dan soal perizinan, Jepang sebagai negara Industri tentu bakal memerlukan sumber daya alam yang besar dan Indonesia sebagai negara penghasil komoditas dunia. Hal ini dirasa bakal menaikkan ekonomi Indonesia,” imbuhnya.

Sovereign Wealth Fund

Dia menambahkan poin menarik soal sovereign wealth fund (SWF) yang akan dijalankan awal 2021. Apabila Jepang ambil bagian, besar harapan IHSG dapat pulih ke 6.000 karena SWF juga diarahkan untuk pertumbuhan pasar modal.

Sebagai catatan, pembentukan SWF atau lembaga pengelola investasi (LPI) tertuang dalam Undang Undang Cipta Kerja. Pemerintah mengharapkan badan hukum itu dapat beroperasi pada Januari 2021.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan penyusunan kebijakan terkait LPI menjadi salah satu prioritas pemerintah. Presiden Joko Widodo menginginkan penyusunan peratura pemerintah (PP) terkait selesai dalam waktu dekat.

Secara terpisah, Analis RHB Sekuritas Michael W Setjoadi mengatakan sedikit emiten portofolio investor Jepang yang likuid dan aktif diperdagangkan. Dia menilai kinerja emiten seperti BTPN dan BDMN masih biasa-biasa saja.

“INCO yang cukup menarik karena sentimen nikel yang meningkat,” imbuhnya.

Sementara itu, Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy mengatakan investor Jepang tertarik untuk masuk ke negara-negara emerging market. Pasalnya, imbal hasil investasi di negaranya tidak memberikan return menarik dalam 3 dekade terakhir.

Untuk beberapa industri, lanjut dia, kehadiran investor asing sekelas Jepang dalam jangka panjang juga menjadi sentimen positif.

“Katalis positif yang ada saya pikir jika pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa segera rebound menjadi positif pada tahun depan dan semakin besarnya foreign direct investment [FDI] dari Jepang di sini,” imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jepang Kinerja Emiten investor jepang
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top