Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ternyata, Mayoritas Emiten Masih Cetak Laba Walau Diterpa Pandemi

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian melansir,sebanyak 63 persen dari perusahaan terbuka di Bursa Efek Indonesia masih bisa mencetak laba bersih pada semester I/2020.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 21 Oktober 2020  |  21:55 WIB
Karyawati beraktivitas di depan patung banteng di PT Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (4/6/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
Karyawati beraktivitas di depan patung banteng di PT Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (4/6/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com,JAKARTA — Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian memberikan tugas kepada perusahaan yang masih meraup laba hingga semester I/2020.

Data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menunjukkan jumlah perusahaan terbuka yang memperoleh laba atau keuntungan masih lebih banyak dibandingkan dengan  yang merugi di tengah pandemi Covid-19 selama semester I/2020.

Pemerintah mencatat total pendapatan usaha dari 518 emiten yang telah mengumpulkan laporan keuangan mencapai Rp1.800,32 triliun pada semester I/2020. Realisasi itu turun 9,07 persen dibandingkan dengan Rp1.979,91 triliun periode yang sama tahun lalu.

Dari situ, laba bersih yang dikumpulkan mencapai Rp118,42 triliun pada semester I/2020. Pencapaian turun 42,65 persen dari Rp206,47 triliun per 30 Juni 2019.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat jumlah perusahaan yang mencetak laba sebanyak 325. Sisanya, 193 perusahaan mencetak kerugian.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan 63 persen perusahaan masih untung pada semester I/2020 diharapkan bisa menjadi daya tahan perekonomian nasional.

“Karena perusahaan-perusahaan tersebut adalah leader-nya di bidang masing-masing,” ujarnya dalam paparan daring “Outlook 2021: The Year of Opportunity” yang berlangsung, Rabu (21/10/2020).

Sebelumnya, Vice President Research Artha Sekuritas Frederik Rasali menjelaskan bahwa mayoritas perusahaan mengalami perlambatan karena dampak dari lockdown. Kondis itu menurutnya tidak hanya di Indonesia tetapi juga global.

“Kondisi ini mengakibatkan melemahnya permintaan secara umum,” ujarnya.

Frederik menjelaskan bahwa sektor yang terdampak terutama di ritel dan keuangan khususnya pada kuartal II/2020. Untuk sektor ritel, penurunan terjadi karena berkurangnya jumlah orang bepergian dan konsumsi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok.

“Sedangkan untuk perbankan terkena pukulan dari peningkatan risiko kredit yang mengakibatkan perbankan untuk meningkatkan pencadangan dan juga restrukturisasi kredit yang menggencet NIM menjadi lebih kecil,” paparnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa efek indonesia Kinerja Emiten
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top