Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Laba Indonesian Tobacco (ITIC) Naik 21 Kali Lipat, Ini Rahasianya!

ITIC mencatatkan kenaikan signifikan pada laba bersih sebesar 2.117,51 persen menjadi Rp13,55 miliar, dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar Rp611,31 juta.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 21 Oktober 2020  |  15:57 WIB
Produk tembakau iris buatan PT Indonesian Tobacco Tbk. - indonesiantobacco.com
Produk tembakau iris buatan PT Indonesian Tobacco Tbk. - indonesiantobacco.com

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten tembakau PT Indonesian Tobacco Tbk. berhasil mencatatkan kinerja yang fantastis hingga periode kuartal ketiga tahun ini.

Berdasarkan laporan keuangan yang diunggah di laman keterbukaan informasi, Selasa (20/10/2020). emiten berkode saham ITIC tersebut mencatatkan kenaikan signifikan pada laba bersih sebesar 2.117,51 persen menjadi Rp13,55 miliar, dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar Rp611,31 juta.

Kenaikan laba ini dikontribusikan oleh berbagai faktor seperti kenaikan pendapatan 48,87 persen secara tahunan menjadi Rp179,04 miliar, menurunnya beban keuangan, nihilnya rugi penjualan aset tetap, keuntungan dari selisih kurs dan kenaikan penghasilan lainnya.

Direktur Utama Indonesian Tobacco Djonny Saksono mengatakan selain dari berkurangnya beban bunga setelah mengajukan fasilitas refinancing dan nihilnya biaya setelah aksi korporasi IPO, perseroan akhirnya bisa menikmati kembali keuntungan yang pesat pada tahun ini. 

“Selain daripada hal tersebut, kita juga ada menaikkan harga jual, dan HPP (harga pokok penjualan) kita juga bisa kendalikan dengan baik sehingga profitabilitas meningkat,” tuturnya kepada Bisnis, Rabu (21/10/2020).

Di sisi lain perseroan juga mengakui sudah meningkatkan kapasitas produksi sejak awal semester kedua tercermin dari volume penjualan yang mencapai 2,18 juta kilogram hingga September, dari target 2,8 juta kilogram hingga akhir tahun ini.

Adapun, segmen penjualan lokal masih menjadi penopang bisnis perseroan dan terpantau naik 50,25 persen menjadi Rp181,74 miliar sebelum dikurangi retur dan diskon.

Sementara penjualan ekspor mengalami penurunan 17,33 persen menjadi hanya Rp1,3 miliar belum dikurangi retur dan diskon hingga periode September 2020.

Sementara itu, Djonny juga menilai penundaan pengumuman kenaikan tarif cukai hasil tembakau (CHT) oleh pemerintah akibat dari pandemi Covid-19 belum akan berdampak signifikan terhadap kinerja keuangan perseroan ke depannya.

“Kalau bagi kami hampir tidak ada pengaruhnya [penundaan kenaikan CHT]. Produk kami beda dengan rokok, konsumen kami pun beda atau niche market tersendiri, kami tidak bersaing head to head dengan pabrik rokok,” tutupnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

laba bersih Kinerja Emiten
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top