Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

PDB China Naik di Bawah Ekspektasi, Indeks Shanghai Composite Fluktuatif

indeks Shanghai Composite dan CSI 300 berbalik melemah. sementara yuan juga memangkas penguatan.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 19 Oktober 2020  |  11:24 WIB
Bursa China SHCI - Reuters
Bursa China SHCI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham China berfluktuasi pada perdagangan hari ini, Senin (19/10/2020), menyusul rilis data pertumbuhan ekonomi terbaru yang meleset dari perkiraan analis.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Shanghai Composite berbalik melemah 0,33 persen ke level 3.325,29 pada pukul 11.00 WIB, setelah sempat menguat 0,23 persen. Adapun indeks CSI 300 terpantau melemah 0,3 persen, berbalik dari penguatan 0,36 persen sebelumnya.

Sementara itu, kontrak berjangka obligasi pemerintah bertenor 10 tahun naik dengan laju paling tinggi dalam hampir satu bulan terakhir, yang menunjukkan pelaku pasar telah memprediksi peningkatan risiko di masa depan.

Sementara itu, yuan memangkas kenaikannya dan diperdagangkan sedikit berubah pada level 6,6984 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg produk domestik bruto (PDB) China naik 4,9 persen pada kuartal III/2020 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/yoy).

Pertumbuhan tersebut memang lebih rendah dari perkiraan ekonom, namun lebih tinggi dari kuartal II/2020 yang mencatat pertumbuhan 3,2 persen.

Sementara itu, penjualan ritel tercatat meningkat 3,3 persen pada September, produksi manufaktur tumbuh 6,9 persen pada bulan tersebut, dan pertumbuhan investasi terakselerasi sebesar 0,8 persen adalam sembilan bulan pertama tahun ini.

Tindakan agresif pemerintah dalam menahan penyebaran virus corona menjadi pendukung pemulihan perekonomian. Sejumlah aktivitas pabrik untuk dengan cepat dibuka kembali, sekaligus memanfaatkan kebutuhan global terhadap peralatan medis dan dukungan terhadap kegiatan kerja dari rumah (work from home/WFH).

“Salah satu alasan mengapa PDB utama meleset dari ekspektasi mungkin adalah rebound impor yang kuat, sehingga memberikan kontribusi negatif terhadap PDB,” kata ekonom China di Natwest Markets Plc, Liu Peiqian.

"Namun hal tersebut tidak boleh dipandang negatif, karena pertumbuhan impor yang kuat mencerminkan pemulihan dalam pertumbuhan ekonomi yang mendasarinya yang juga menguat," lanjutnya, seperti dikutip Bloomberg.

Konsumen terlihat lebih berhati-hati, tetapi meningkatnya pengeluaran selama liburan Golden Week baru-baru ini menunjukkan bahwa mereka juga mulai berbelanja kembali.

Kepala ekonom Bloomberg untuk wilayah Asia, Chang Shu, mengatakan pemulihan ekonomi di China masih utuh, meskipun laju pertumbuhan PDB kuartal ketiga lebih lambat dari perkiraan.

“Kinerja yang di bawah perkiraan tersebut disebabkan oleh sektor jasa yang masih berjuang untuk menghilangkan dampak virus corona. Tetapi sektor manufaktur melonjak ke tingkat pertumbuhan sebelum pandemi,” ungkapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi china bursa china shanghai composite index indeks csi 300

Sumber : Bloomberg

Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top