Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Reksa Dana Pendapatan Tetap Jadi yang Paling Menarik, Ini Alasannya

Sepanjang tahun berjalan, kinerja reksa dana pendapatan tetap memimpin dengan imbal hasil 5,23 persen secara year to date. 
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 07 Oktober 2020  |  19:04 WIB
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis - Himawan L Nugraha
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA — Reksa dana berbasis obligasi alias reksa dana pendapatan tetap masih yang paling menarik hingga akhir tahun ini seiring dengan pemulihan ekonomi yang masih melambat.

Berdasarkan data Infovesta Utama, reksa dana pendapatan tetap mencetak imbal hasil tertinggi di akhir periode kuartal III/2020, yakni 2,75 persen secara kuartalan. 

Begitu pula jika kinerjanya ditarik lebih jauh ke belakang, sepanjang tahun berjalan reksa dana pendapatan tetap memimpin dengan imbal hasil 5,23 persen secara year to date. 

Kinerja reksa dana pendapatan tetap sepanjang tahun ini sejalan dengan indeks kinerja obligasi pemerintah dan indeks obligasi korporasi yang juga naik 5,29 persen dan 4,17 

Direktur Riset dan Kepala Investasi Alternatif Bahana TCW Investment Management Soni Wibowo menilai hingga akhir tahun ini reksa dana berbasis obligasi masih menjadi yang paling menarik. 

Pasalnya, dia melihat pemulihan pertumbuhan ekonomi di Indonesia akan berjalan lambat, sementara di waktu bersamaan uang beredar semakin banyak, begitu pula dengan perbankan yang kebanjiran likuiditas. 

“Kita masih mengharapkan pertumbuhan [ekonomi] tapi pasti butuh waktu, dengan itu uang akan lebih aman di obligasi dari pada saham dan pasar uang,” ujarnya kepada Bisnis

Soni menuturkan pasar saham menjadi pilihan terakhir mengingat volatilitasnya yang sangat tinggi, sedangkan pasar uang tertekan oleh kemungkinan pemangkasan suku bunga acuan dan suku bunga deposito yang kian mengecil. 

“Jadi ke depan saya melihatnya masih sama deposito akan turun dan di kondisi ekonomi yang deflasi atau lemah seperti sekarang ini nggak mungkin BI menaikkan suku bunga, malah berpotensi menurunkan suku bunga dan itu akan menjadi katalis positif buat obligasi,” papar dia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi reksa dana
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top