Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tanpa Saham Perbankan, Indeks Syariah Loyo

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, secara year to date hingga akhir perdagangan Selasa (6/10/2020), Indonesia Sharia Stock Index (ISSI) terkoreksi 22,21 persen, Jakarta Islamic Index (JII) turun 21,76 persen dan Jakarta Islamic Index 70 (JII70) turun 22,52 persen.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 06 Oktober 2020  |  19:25 WIB
Pengunjung berjalan di dekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di kantor PT Bursa Efek Indonesia (BEI)  di Jakarta, Jumat (25/9/2020). Bisnis - Dedi Gunawan
Pengunjung berjalan di dekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di kantor PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Jumat (25/9/2020). Bisnis - Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA — Ketidakhadiran saham-saham perbankan disebut menjadi penyebab indeks syariah underperform terhadap indeks harga saham gabungan (IHSG).

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, secara year to date hingga akhir perdagangan Selasa (6/10/2020), Indonesia Sharia Stock Index (ISSI) terkoreksi 22,21 persen, Jakarta Islamic Index (JII) turun 21,76 persen dan Jakarta Islamic Index 70 (JII70) turun 22,52 persen.

Sepanjang tahun berjalan, depresiasi ketiga indeks syariah tersebut terpantau lebih dalam dibandingkan dengan IHSG. Dalam periode yang sama, indeks komposit ini tercatat merosot 20,64 persen secara year to date.

Sebagai informasi, ISSI merupakan indeks yang berisi seluruh saham syariah yang tercatat di BEI yakni 451 saham. Sementara JII berisi 30 saham syariah paling likuid dan berkapitalisasi terbesar, begitu pula dengan JII 70 tapi jumlah anggotanya lebih luas yakni 70 saham.

Direktur CSA Institute Aria Santoso menilai bobot terbesar dari indeks komposit masih didominasi oleh emiten bank umum dan berkapitalisasi besar, sedangkan emiten perbankan nonsyariah tersebut tidak termasuk dalam indeks syariah.

“Itu salah satu penyebabnya,” ujar Aria ketika dihubungi Bisnis, Selasa (6/10/2020).

Adapun penyebab lainnya, dia menyebut minat beli para investor yang ada di dalam indeks syariah belum kembali seperti kondisi pasar yang normal.

Di sisi lain, dia menyebut kemungkinan indeks syariah untuk terus menguat dan pulih kembali di akhir tahun masih sangat terbuka, seiring dengan pulihnya berbagai bidang bisnis.

“Secara jangka pendek mungkin saja IHSG pulih lebih cepat namun secara jangka panjang indeks syariah juga tidak kalah menarik potensi pemulihannya,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG Indeks Syariah
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top