Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Minyak Mentah Catat Penguatan Terbesar sejak Juni 2020

Minyak berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober menguat 10 persen sepanjang pekan ini
M. Richard
M. Richard - Bisnis.com 19 September 2020  |  08:16 WIB
Kilang minyak lepas pantai di Skotlandia - Bloomberg/Jason Alden
Kilang minyak lepas pantai di Skotlandia - Bloomberg/Jason Alden

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah mencatat reli mingguan terbesar sejak Juni 2020, didorong oleh sikap tegas Arab Saudi untuk mendorong anggota OPEC+ patuh terhadap kesepakatan produksi.

Berdasarkan data yang dihimpun Bloomberg (19/9/2020), minyak berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober menguat 10 persen sepanjang pekan ini. Penguatan ini terjadi setelah Arab Saudi memberikan peringatan terhadap anggota OPEC+ yang melakukan kecurangan terhadap kuota produksi.

Pada akhir perdagangan Jumat, WTI ditutup menguat 0,34 poin ke level US$41,11 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent untuk pengiriman November melemah 0,35 persen dan ditutup di posisi US$43,15 per barel, namun telah menguat 8,3 persen pekan ini.

Saudi mengisyaratkan bahwa mereka siap untuk pengurangan produksi baru, dan mengecam anggota OPEC+ yang telah menipu kuota produksi.

WTI sempat melemah hingga 1,6 persen pada hari Jumat menyusul pengumuman dari komandan militer Libya Khalifa Haftar bahwa ia akan mengizinkan produksi dan ekspor minyak mentah untuk dilanjutkan.

Namun, Haftar mencapai kesepakatan dengan wakil perdana menteri negara itu, meskipun belum jelas apakah kesepakatan yang mengecualikan National Oil Co. tersebut akan benar-benar memulai kembali ekspor.

"Bergantung pada pasokan minyak Libya menjadi spekulasi yang cukup berisiko, sehingga pelaku pasar kemungkinan tidak bersedia untuk membuat taruhan yang cukup besar menjelang akhir pekan," kata Presiden Direktur Strategic Energy & Economic Research, Michael Lynch, seperti dikutip Bloomberg.

Hanya saja, menurutnya komentar jelas Arab Saudi pada hari Kamis meyakinkan pelaku pasar bahwa mereka mereka dapat mengandalkan OPEC untuk menekan pasokan sedikit lebih lama.

Sebagai informasi, Haftar mengendalikan sebagian besar Libya timur dan telah menghentikan operasi dan pengiriman dari wilayahnya sebagai bagian dari kampanye melawan pemerintah Tripoli yang diakui secara internasional. Anggota OPEC hanya memproduksi 80.000 barel per hari saat ini, jauh dari produksi 1,2 juta barel per hari tahun lalu.

Minyak membalikkan penurunan minggu lalu, yang mendorong WTI menuju US$37 per barel di tengah perkiraan suram permintaan dari Badan Energi Internasional ke Trafigura Group dan BP Plc. 

Turut menopang harga minggu ini, data pemerintah AS menunjukkan stok minyak mentah dan bensin menurun. Stok minyak Amerika sekarang berada di level terendah sejak April.

Wakil presiden eksekutif Confluence Investment Management Bill O'Grady mengatakan minyak mentah masih belum akan terlepas dari stekanan setelah pasokan minyak distilat mencatat rekor tertinggi dan margin penyulingan untuk bahan bakar di AS dan Eropa menyempit.

Sementara itu, meningkatnya infeksi virus korona di Eropa meningkatkan momok kembalinya pembatasan yang lebih ketat yang telah melumpuhkan konsumsi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga minyak mentah
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top