Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pekan Depan, IHSG Banyak Dibayangi Sentimen Negatif

Sentimen negatif tersebut berasal dari pasar global dan dalam negeri.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 06 September 2020  |  13:16 WIB
Karyawan berada di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (2/9/2020). Bisnis - Dedi Gunawan
Karyawan berada di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (2/9/2020). Bisnis - Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA — Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) diproyeksi bergerak konsolidasi melemah seiring tren koreksi pasar saham dunia. Kondisi tersebut dibayangi oleh sejumlah sentimen negatif baik dari global maupun dalam negeri.

Direktur PT Anugrah Mega Investama Tbk. Hans Kwee mengatakan aksi jual saham-saham telkonomi akibat kekhawatiran akan valuasi yang terlalu tinggi membuat pasar saham dunia tertekan turun.

Sebagai gambaran, indeks Nasdaq telah naik lebih dari 80 persen sejak posisi terendah Maret 2020, sedangkan indeks S&P 500 dan Dow Jones juga telah naik lebih dari 60 persen dalam periode yang sama.

Hans menilai saham-saham teknologi sudah naik terlalu banyak akibat harapan perolehan keuntungan akibat dampak pandemi sehingga peluang koreksi saham teknologi masih mungkin berlanjut.

“Sehingga pasar saham [Indonesia] masih berpeluang konsolidasi melemah akibat koreksi pada pasar saham dunia akibat koreksi saham teknologi,” tuturnya dalam keterangan tertulis yang diterima Bisnis, Minggu (6/9/2020)

Dari dalam negeri, penambahan kasus Covid-19 yang tak juga melandai turut menjadi sentimen negatif bagi indeks. Begitu pula dengan perkembangan ekonomi di Indonesia.

Apalagi, terjadi perlambatan ekonomi di Agustus 2020 di tandai dengan deflasi sebesar 0,05 persen. Angka ini membuat inflasi secara year to date menjadi 0.93 persen dan inflasi tahunan atau year on year menjadi 1,32 persen.

“Pandemi Covid 19 telah memukul daya beli masyarakat sehingga permintaan barang dan jasa turun. Hal ini berdampak pada peluang konsumsi masyarakat turun sehingga berpeluang membuat pertumbuhan ekonomi di Q3 akan kembali negatif,” kata Hans.

Sementara itu isu amandemen Undang-undang tentang Bank Indonesia menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan. Pasalnya, Bank Indonesia terancam tidak independen karena akan di bawah Dewan Moneter yang dikepala Menteri Keuangan.

Ini juga diperparah dengan kabar bahwa pengawasan sektor keuangan tidak akan terintegrasi lagi. Hans menilai kabar tersebut akan menjadi sentimen negatif dan memicu kekhawatiran pelaku pasar sehingga membuat mereka menjadi lebih berhati-hati.

“Mengubah pondasi sektor keuangan ketika badai krisis pandemi Covid-19 belum berakhir, (sehingga) menimbulkan sentimen negatif bagi pasar keuangan,” tukasnya.

Adapun, untuk awal pekan ini dia memproyeksikan IHSG bergerak konsolidasi melemah dengan posisi support di level 5,188 sampai 5,059 dan posisi resistance di level 5,337 sampai 5,381.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG rekomendasi Indeks BEI
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

BisnisRegional

To top