Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Eastspring Indonesia Koleksi Saham Defensif untuk Reksa Dana Saham

Saham di sektor defensif dipilih untuk penyusunan portofolio reksa dana saham karena cenderung tahan banting saat pertumbuhan ekonomi melambat.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 01 September 2020  |  10:56 WIB
Chief Investment Officer Eastspring Investments Indonesia Ari Pitojo (kiri) berbincang dengan Chief of Product Development & Head of Sharia Unit Rian Wisnu Murti, usai halalbihalal, di Jakarta, Rabu (26/6/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam
Chief Investment Officer Eastspring Investments Indonesia Ari Pitojo (kiri) berbincang dengan Chief of Product Development & Head of Sharia Unit Rian Wisnu Murti, usai halalbihalal, di Jakarta, Rabu (26/6/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Manajer investasi asal Inggris, PT Eastspring Investments Indonesia, mengoleksi saham dalam barisan defensif di tengah tren perlambatan ekonomi, seperti saham sektor konsumsi, kesehatan, dan komunikasi.

CIO Eastspring Indonesia Ari Pitojo menyampaikan bahwa pihaknya memilih saham sektor defensif yang cenderung tahan banting saat pertumbuhan ekonomi melambat untuk penyusunan portofolio reksa dana saham.

“Dalam hal pemilihan saham, kami lebih menyukai saham-saham yang berfundamental baik dan mempunyai pendanaan yang kuat,” kata Ari, Senin (1/9/2020).

Adapun, pemilihan underlying asset portofolio reksa dana saham juga dilakukan sembari melihat peluang beberapa emiten yang dapat merestrukturisasi bunga pinjaman pada era suku bunga rendah dan perusahaan yang dapat menikmati stimulus dari pemerintah.

Ari memperkirakan ke depannya volatilitas di pasar masih akan tinggi terutama dalam jangka pendek. Perkembangan penanganan penyebaran virus corona di berbagai negara tetap menjadi sorotan utama pelaku pasar, selain juga fokus pada rilis data makroekonomi. 

“Alhasil, kami tetap lebih menyukai aset alokasi pendapatan tetap dibanding saham,” imbuh Ari.

Pada akhir perdagangan bulan lalu, Senin (31/8/2020), IHSG terperosok 2,02 persen ke level 5.238, tertekan oleh aksi jual atau net sell investor asing yang mencapai Rp1,9 triliun.

Investor asing yang keluar dalam jumlah besar tersebut didorong oleh penyesuaian konstituen atau rebalancing indeks MSCI, yang mana hasil review telah dipublikasi pada 12 Agustus 2020.

“Namun demikian terlihat IHSG masih menunjukkan tren kenaikan setelah ditutup positif 4 bulan berturut-turut,” ujar Ari.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Eastspring Investments
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top