Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Laba Menurun 47 Persen, Saham Adaro (ADRO) Masih Memanas

Pada perdagangan Jumat (28/8/2020) pukul 14.16 WIB, saham ADRO naik 1,33 persen atau 15 poin menjadi Rp1.140, setelah bergerak di rentang Rp1.130-Rp1.160.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 28 Agustus 2020  |  14:30 WIB
Presiden Direktur PT Adaro Energy Tbk (Adaro) Garibaldi Thohir (kanan) didampingi Komisaris Independen Adaro Mohammad Effendi saat melaksanakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Adaro Energy Tbk (IDX: ADRO) Rabu (20/5 - 2020) di kantornya di Jakarta. Istimewa
Presiden Direktur PT Adaro Energy Tbk (Adaro) Garibaldi Thohir (kanan) didampingi Komisaris Independen Adaro Mohammad Effendi saat melaksanakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Adaro Energy Tbk (IDX: ADRO) Rabu (20/5 - 2020) di kantornya di Jakarta. Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Meski mengalami penurunan laba, saham PT Adaro Energy Tbk. masih memanas.

Pada perdagangan Jumat (28/8/2020) pukul 14.16 WIB, saham ADRO naik 1,33 persen atau 15 poin menjadi Rp1.140, setelah bergerak di rentang Rp1.130-Rp1.160.

Total transaksi mencapai Rp95,53 miliar. Kapitalisasi pasar ADRO mencapai Rp36,46 triliun dengan price to earning ratio (PER) 8,24 kali.

Sepanjang tahun berjalan, saham ADRO masih terkoreksi 26,69 persen. Namun, dalam sepekan harga masih meningkat 2,24 persen.

PT Adaro Energy Tbk. membukukan penurunan laba bersih 47,75 persen secara tahunan pada semester I/2020.

Adaro Energy melaporkan penurunan pendapatan 23 persen secara year on year (yoy) menjadi US$1,36 miliar pada semester I/2020. Manajemen menyebut kondisi itu disebabkan penurunan rerata harga jual sebesar 18 persen serta tergerusnya volume penjualan.

Emiten berkode saham ADRO itu menjelaskan bahwa penerapan lockdown oleh sejumlah negara pengimpor batu bara untuk penanggulangan Covid-19 mengakibatkan penurunan terhadap permintaan listrik industri. Akibatnya, permintaan batu bara turun pada semester I/2020.

ADRO melaporkan produksi batu bara mencapai 27,29 juta ton pada semester I/2020 atau turun 4 persen secara yoy. Seiring dengan kondisi pasar yang sulit, perseroan juga merevisi panduan produksi menjadi 52—54 juta ton untuk periode 2020.

ADRO melaporkan realisasi laba yang dapat diatribusikan kepada entitas induk US$155,09 juta pada semester I/2020. Pencapaian itu turun 47,75 persen dibandingkan dengan US$296,85 juta periode yang sama tahun lalu.

Presiden Direktur dan Chief Executive Officer Adaro Energy Garibaldi Thohir mengatakan tidak dapat memungkiri kinerja perseroan semester I/2020 tidak kebal dari dampak penurunan permintaan batu bara. Kondisi itu disebabkan wabah Covid-19.

“Namun, kami tetap memaksimalkan upaya untuk terus berfokus kepada keunggulan operasional bisnis inti perusahaan, meningkatkan efisiensi dan produktifitas operasi, menjaga kas, serta mempertahankan posisi keuangan yang solid di tengah situasi sulit yang berdampak terhadap sebagian besar dunia usaha,” ujarnya melalui siaran pers yang dikutip Jumat (28/8/2020).

Garibadi mengatakan tetap yakin fundamental sektor batu bara dan energi tetap kokoh dalam jangka panjang meski menghadapi tantangan untuk beberapa saat ke depan. Prospek itu seiring dengan dukungan aktivitas pembangunan di negara-negara Asia.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

saham Kinerja Emiten adaro
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top