Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Punya Kas Tebal Rp8,25 Triliun, Begini Penjelasan Manajemen Gudang Garam (GGRM)

Per 30 Juni 2020, total kas dan setara kas PT Gudang Garam Tbk. mencapai Rp8,25 triliun, naik 302 persen dibandingkan dengan posisi Desember 2019.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 24 Agustus 2020  |  18:55 WIB
Warga melintas di depan kantor pusat pabrik rokok PT Gudang Garam Tbk di Kediri, Jawa Timur, Selasa (30/8). - Antara/Prasetia Fauzani
Warga melintas di depan kantor pusat pabrik rokok PT Gudang Garam Tbk di Kediri, Jawa Timur, Selasa (30/8). - Antara/Prasetia Fauzani

Bisnis.com, JAKARTA - Produsen rokok,PT Gudang Garam Tbk., membukukan kenaikan signifikan pada pos kas dan setara kas seiring dengan relaksasi penundaan pembayaran cukai oleh Kementerian Keuangan.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, emiten berkode saham GGRM itu mengalami kenaikan total aset perseroan per akhir Juni 2020 sebesar 0,65 persen dibandingkan dengan periode akhir 2019 menjadi Rp79,16 triliun.

Total kas dan setara kas akhir Juni 2020 perseroan mencatatkan kenaikan signifikan, yaitu 302,15 persen secara tahunan menjadi Rp8,25 triliun dibandingkan dengan posisi akhir Desember 2019 sebesar Rp3,57 triliun.

Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan Gudang Garam Heru Budiman mengatakan bahwa posisi kas berlebih terjadi disebabkan oleh adanya perpanjangan pembayaran cukai menjadi 90 hari dari sebelumnya 60 hari.

Untuk diketahui, melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 30/PMK.04/2020, pemerintah memberlakukan relaksasi penundaan pembayaran cukai yang berlaku pada 9 April 2020 hingga 9 Juli 2020.

Selain itu, kenaikan posisi kas itu seiring dengan kebutuhan modal kerja perseroan yang tinggi untuk mempersiapkan peningkatan volume produksi sebelum memasuki cuti lebaran bersama tahun ini yang lebih panjang daripada tahun sebelumnya.

“Kami sebetulnya mengalami atau merasakan kelebihan cash, kemudian pada Juni itu terkumpul kurang lebih Rp8 triliun yang di bulan Juli itu sudah sebagian dipakai untuk melunasi pinjaman dan akhir Agustus sudah bisa kami pergunakan juga untuk mengurangi jumlah pinjaman jatuh tempo atau short term loan,” papar Heru saat paparan publik secara daring, Senin (24/8/2020).

Adapun, GGRM mencatatkan penurunan liabilitas per 30 Juni 2020 sebesar 11,94 persen dibandingkan dengan periode akhir 2019 menjadi Rp24,40 triliun. Total liabilitas tersebut terdiri atas liabilitas jangka pendek sebesar Rp21,76 triliun dan liabilitas jangka panjang sebesar Rp2,64 triliun.

Di sisi lain, Heru menjelaskan telah menyerap alokasi belanja modal sebesar Rp2,5 triliun pada Juni 2020 yang dipergunakan untuk membangun bandar udara di Kabupaten Kediri melalui skema kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU). GGRM menjelaskan pembangunan Bandara Kendiri itu tetap berjalan sesuai dengan jadwal dan tidak terdapat kendala apapun.

Sebelumnya, Direktur Gudang Garam Istata Taswin Siddharta menyatakan nilai investasi untuk pengembangan bandara tersebut diperkirakan akan menghabiskan dana Rp6 triliun hingga Rp9 triliun yang ditanggung penuh oleh perseroan.

“Kita sendiri masih mengerjakan detailnya, kira-kira akan habis berapa (dana investasi). Tapi saya yakin keperluan dana yang harus kita keluarkan tahun ini akan bisa di-cover dari dana internal,” ujar Istata saat ditemui di acara penandatanganan MoU perseroan bersama PT Angkasa Pura I, di Jakarta pada Selasa (10/2/2020).

Perseroan menilai proyek pembangunan bandara ini bukan unit bisnis murni untuk mendulang keuntungan. Lebih jauh, Gudang Garam melihat proyek ini sebagai investasi jangka panjang yang dapat meningkatkan kontribusi untuk daerah dan negara secara menyeluruh.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bandara Kinerja Emiten gudang garam
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

BisnisRegional

To top