Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kinerja Obligasi Moncer, Return Reksa Dana Pendapatan Tetap Ikut Terkerek

Kinerja reksa dana pendapatan tetap yang tercermin lewat Infovesta Fixed Income Fund Index tercatat naik sebesar 2,48 persen, tertinggi dibandingkan jenis reksa dana lainnya.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 14 Juli 2020  |  18:55 WIB
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis - Himawan L Nugraha
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA — Reksa dana pendapatan tetap mencatat imbal hasil atau return tertinggi dibandingkan dengan jenis reksa dana lain hingga tahun berjalan. Kinerja tersebut ditopang oleh kondisi suku bunga rendah dan stabilitas nilai tukar rupiah.

Berdasarkan data Infovesta Utama per 10 Juli 2020, kinerja indeks reksa dana pendapatan tetap yang tercermin lewat Infovesta Fixed Income Fund Index tercatat naik sebesar 2,48 persen.

Posisi itu sedikit lebih baik dibandingkan kinerja indeks reksa dana pasar uang yang tercermin lewat Infovesta Money Market Fund Index yang sebesar 2,46 persen.Di zona merah, terdapat indeks reksa dana saham yang tercermin lewat Infovesta Equity Fund Index dengan kinerja sebesar -23,98 persen. Berikutnya kinerja indeks reksa dana campuran yang tercermin lewat Infovesta Balanced Fund Index tercatat sebesar -11,34 persen.

Ezra Nazula, Direktur & CIO Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia, menjelaskan reksa dana pendapatan tetap menjadi menarik dan positif pada tahun ini ditopang oleh berbagai faktor. Faktor utama adalah kinerja obligasi. 

Pada tahun ini, pasar obligasi mendapat berkah dari tren suku bunga rendah. Adapun, mayoritas bank sentral di dunia mengeluarkan stimulus moneter untuk menahan dampak negatif Covid-19 terhadap perekonomian. Seperti diketahui, penurunan suku bunga berbanding terbalik dengan kenaikan harga obligasi. 

“Bank Indonesia yang mengikuti langkah bank sentral lain juga masih dalam siklus penurunan suku bunga dengan angka makro yang masih stabil seperti inflasi rendah dan BI terus support pasar obligasi dengan kebijakan burden sharing dengan pemerintah,” jelas Ezra kepada Bisnis, Selasa (14/7/2020). 

Ezra melihat investor asing masih berpotensi masuk ke pasar SUN karena imbal hasil surat berharga negara Indonesia masih relatif tinggi pada level 7 persen.  Belum lagi selisih SUN dengan obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun masih lebar secara historis yang sekarang sekitar 0,6 persen.

Pasar surat utang Tanah Air juga mendapat sentimen positif dari pergerakan nilai tukar rupiah. Ezra menunjukkan bahwa nilai tukar rupiah sudah kembali stabil di level Rp14.500 setelah sempat terjerumus mendekati Rp17.000 pada Maret dengan cadangan devisa Indonesia juga sudah naik kembali.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi reksa dana
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top