Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bobol BNI Rp1,7 Triliun, Duit Maria Pauline Lumowa Mekar Jadi Rp69 Triliun Bila Beli Saham Ini

Selama 17 tahun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sudah mencetak kenaikan lebih dari 1.100 persen. Dana sebanyak Rp1,7 triliun bisa mekar menjadi lebih besar bila ditempatkan di instrumen saham.
Rivki Maulana
Rivki Maulana - Bisnis.com 09 Juli 2020  |  11:27 WIB
Kemenkumham mengekstradisi buronan pembobol Bank BNI Maria Pauline Lumowa dari Serbia ke Indonesia, Rabu (8/7/2020). - Twitter @kemenkumham
Kemenkumham mengekstradisi buronan pembobol Bank BNI Maria Pauline Lumowa dari Serbia ke Indonesia, Rabu (8/7/2020). - Twitter @kemenkumham

Bisnis.com, JAKARTA - Tersangka kasus pembobolan kas PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. ditangkap Kepolisian Republik Serbia dan diekstradisi ke Indonesia. Maria buron selama 17 tahun sejak pergi diam-diam pada September 2003.

Menjadi buronan 17 tahun dengan menggondol uang yang tidak sedikit, kira-kira, apa yang terjadi bila Maria menanam duit hasil bobolan BNI di instrumen saham?

Pada Maret 2003, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berkutat di level 398. Hari ini, perdagangan memang belum berakhir. IHSG terpantau bergerak menembus level 5.000. Memang bukan level tertinggi. Tapi kenaikan harga saham selama 17 tahun sudah dengan asumsi IHSG hari ini 5.000 sudah mencapai 1.156 persen.

Cuan yang didapat meski dari uang ilegal bisa lebih moncer lagi bila Maria membeli saham PT Bank Central Asia. Pada 2 September 2003, harga saham BCA 762,5. Duit Rp1,7 triliun cukup untuk memborong 2,22 miliar lembar saham.

Kemarin harga saham BBCA ditutup di posisi 31.050. Jumlah lembar saham yang dibeli 17 tahun lalu kemarin setara dengan Rp69,17 triliun atau sekitar 40 kali lipat. Berdasarkan data Bloomberg, harga saham BCA dalam 17 tahun terakhir naik 3,975 persen atau setara 24 persen per tahun. 

Untuk diketahui, Maria merupakan salah satu tersangka pelaku pembobolan kas bank BNI cabang Kebayoran Baru lewat Letter of Credit (L/C) fiktif. 

Pada periode Oktober 2002 hingga Juli 2003, Bank BNI mengucurkan pinjaman kepada PT Gramarindo Group yang dimiliki Maria Pauline Lumowa dan Adrian Waworuntu sebesar 136 juta dolar AS dan 56 juta Euro atau setara Rp 1,7 triliun dengan kurs saat itu. 

Pada Juni 2003, pihak BNI yang curiga dengan transaksi keuangan PT Gramarindo Group mulai melakukan penyelidikan dan mendapati perusahaan tersebut tak pernah melakukan ekspor.

Dugaan L/C fiktif ini kemudian dilaporkan ke Mabes Polri, namun Maria Pauline Lumowa sudah lebih dahulu terbang ke Singapura pada September 2003 alias sebulan sebelum ditetapkan sebagai tersangka oleh tim khusus yang dibentuk Mabes Polri.

Perempuan kelahiran Paleloan, Sulawesi Utara, pada 27 Juli 1958 tersebut belakangan diketahui keberadaannya di Belanda pada 2009 dan sering bolak-balik ke Singapura.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

transaksi saham
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top