Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Harga Emas Cetak Rekor Tertinggi 9 Tahun, Apakah Terus Berlanjut?

Pada perdagangan Rabu (8/7/2020), harga menguat ke level tertingginya sejak September 2011 senilai US$1.818.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 09 Juli 2020  |  16:30 WIB
Emas batangan. - bloomberg
Emas batangan. - bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA — Penguatan harga emas diperkirakan tidak ada lawan selama vaksin Covid-19 belum ditemukan. Adapun, harga logam mulia ini diperkirakan bakal bertahan di atas level US$1.800 per troy ounce hingga akhir tahun.

Ariston Tjendra, Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures, mengatakan penguatan harga emas didorong oleh kekhawatiran investor terhadap penyebaran Covid-19 gelombang kedua (second wave) di Amerika Serikat, Jerman, Korea Selatan, dan sejumlah negara maju lainnya.

Sementara itu, laju penyebaran virus yang berasal dari Wuhan ini juga belum melambat dan bahkan masih dalam periode first wave terutama di negara-negara berkembang seperti di Amerika Latin.

“[Sampai akhir tahun] masih ada potensi penguatan selama vaksin belum ditemukan. Orang kan menunggu vaksin sudah ditemukan, sehingga mungkin kekhawatiran akan mereda,” jelas Ariston, Kamis (9/6/2020).

Ariston memperkirakan harga emas bergerak pada rentang US$1.870—US$1.750 per troy ounce menjelang akhir tahun. Dirinya melihat potensi koreksi masih ada namun tidak terlalu besar karena tertutupi oleh sentimen penguatan harga.

Selain kekhawatiran Covid-19, Ariston menunjukkan penopang harga logam kuning ini juga berasal dari stimulus besar-besaran yang digelontorkan oleh bank sentral di sejumlah negara khususnya Bank Sentral AS (Federal Reserve).

“Likuiditas ini dipakai oleh pelaku pasar untuk membeli aset keuangan, termasuk emas,” tutur Ariston.

Mengutip Bloomberg pada Kamis (9/7/2020) pukul 15.41, harga emas Comex kontrak pengiriman Agustus 2020 menguat 2,40 persen ke level US$1.823 per troy ounce.

Sementara itu, harga emas spot menguat 0,22 persen menjadi US$1.812 per troy ounce. Pada perdagangan Rabu (8/7/2020), harga menguat ke level tertingginya sejak September 2011 senilai US$1.818.

Warren Petterson, Head of Commodities Strategy di ING Groep NV Singapura, menyampaikan skenario harga emas bertahan di atas US$1.800 per troy ouncesangat kuat seiring dengan terjadinya pelemahan dolar AS, penyebaran Covid-19 yang belum selesai, dan pesimisme The Fed terhadap pemulihan ekonomi.

“Tinggal menunggu waktu saja sampai kita mengetes harga [emas] paling tinggi sepanjang sejarah (all time high),” kata Petterson seperti dikutip Bloomberg.

Petterson menambahkan bahwa kenaikan harga ini berpotensi dimanfaatkan investor untuk melakukan aksi ambil untung atau profit taking. Namun demikian, dengan kondisi yang penuh dengan ketidakpastian seperti saat ini disebut tidak akan cukup menahan orang untuk kembali membeli emas.

Howie Lee, ekonom Oversea-Chinese Banking Corp., bahkan memperkirakan harga emas dapat menyentuh US$2.000 per troy ounce pada akhir tahun ini, mengalahkan rekor sebelumnya pada level US$1.900.

“Kami memperkirakan emas akan menuju US$2.000 sebelum akhir 2020 jika kasus corona di AS tidak berkurang,” tulis Lee dalam catatan.

Ray Dalio, pendiri Bridgewater Associates, menilai saat ini investor cenderung memburu saham dan emas ketimbang obligasi dan kas. Pasalnya, obligasi dan kas akan mendapat sentimen negatif dari sisi return dan kemungkinan bank sentral menerbitkan lebih banyak uang tunai.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

emas Harga Emas Hari Ini Virus Corona
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top