Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Permintaan Sukuk Negara Bakal Susut di Bawah Rp30 Triliun

Pemerintah akan menawarkan surat berharga syariah negara (SBSN) seri surat perbendaharaan negara-syariah (SPN-S) dan project based sukuk (PBS) pada Selasa (7/7/2020).
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 05 Juli 2020  |  16:59 WIB
Ilustrasi OBLIGASI. Bisnis - Abdullah Azzam
Ilustrasi OBLIGASI. Bisnis - Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Penawaran yang masuk dalam lelang surat berharga syariah negara atau sukuk negara diprediksi akan lebih rendah dibandingkan dengan lelang sebelumnya akibat tekanan di pasar obligasi sesi akhir pekan lalu.

Lelang surat berharga syariah syariah negara (SBSN) terakhir dilaksanakan pada Selasa (23/6/2020). Penawaran sukuk yang masuk saat itu senilai Rp38,84 triliun dengan total nilai yang dimenangkan oleh pemerintah Rp9,5 triliun.

Lewat Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, Pemerintah akan menawarkan surat berharga syariah negara (SBSN) seri surat perbendaharaan negara-syariah (SPN-S) dan project based sukuk (PBS) pada Selasa (7/7/2020).

Lelang itu menjadi kesempatan pertama pemerintah menawarkan surat berharga negara (SBN) pada semester II/2020.

Seri SPN-S yang akan dilelang yakni SPN-S 08012021 yang jatuh tempo 8 Januari 2021. Tingkat imbalan yang ditawarkan yakni diskonto. Selanjutnya, pemerintah menawarkan lima seri PBS.

Empat seri merupakan lelang kembali atau reopening dengan tingkat imbalan masing-masing PBS-002 (5,450 persen), PBS-026 (6,625 persen), PBS-022 (8,625 persen), dan PBS-005 (6,750 persen). Adapun, satu seri merupakan penerbitan baru yakni PBS-028.

PBS-028 akan jatuh tempo pada 15 Oktober 2046. Tingkat bunga tetap atau fix rate akan ditetapkan pada 7 Juli 2020.

Adapun, underlying asset dari enam seri SBSN itu yakni proyek atau kegiatan dalam APBN tahun 2020 dan Barang Milik Negara. Target indikatif dari lelang tersebut yakni Rp7 triliun.

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto mengungkapkan pasar obligasi cukup tertekan pada akhir pekan lalu. Pelemahan nilai tukar rupiah turut menaikkan imbal hasil atau yield surat utang pemerintah Indonesia di pasar sekunder.

Ramdhan menjelaskan bahwa penambahan angka positif Covid-19 yang terbilang besar cukup mengganggu pasar. Penambahan kasus baru rerata secara harian di atas 1.000 orang.

“Lelang Selasa [SBSN] akan melihat pasar Senin [6/7/2020] tetapi perkiraan saya akan lebih rendah dibandingkan dengan 2 minggu lalu. Angka penawaran masuk berkisar Rp20 triliun hingga Rp25 triliun,” paparnya kepada Bisnis, Jumat (5/7/2020).

Dia mengatakan memanasnya hubungan antara China dan Amerika Serikat (AS) turut menekan pasar obligasi Indonesia. Pelemahan di pasar sekunder menurutnya akan mempengaruhi minat investor dalam mengikuti lelang.

“Potensi ketidakpastian pasar akan menyebabkan tekanan sehingga yield juga tertakan [kenaikan yield],” imbuhnya.

Secara terpisah, Associate Direktur of Research and Investment Pilarmas Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan ketidakpastian kembali meningkat. Akibatnya, imbal hasil yang diminta investor semakin tinggi.

Nico menilai total penawaran yang masuk akan menjadi cerminan apakah pasar obligasi dalam kondisi baik atau sebaliknya. Pelaku pasar saat ini menurutnya cenderung wait and see di pasar sekunder.

Kendati demikian, dia masih meyakini penawaran yang masuk ke dalam lelang SBSN akan melebihi target indikatif pemerintah. Menurutnya, permintaan untuk sukuk negara dalam lelang Selasa (7/7/2020) masih berkisar Rp20 triliun hingga Rp30 triliun.

“Lebih dari Rp30 triliun akan baik,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi sukuk Obligasi Pemerintah
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top