Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pekan Depan, Bursa Efek Indonesia (BEI) Kedatangan Tiga Emiten Baru

Ketiga perusahaan yang akan melakukan penawaran umum perdana saham adalah PT Pakuan Tbk. (UANG), PT Pradiksi Gunatama Tbk. (PGUN), PT Boston Furniture Industries Tbk. (SOFA)
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 05 Juli 2020  |  13:39 WIB
Pengunjung melintas di depan papan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (24/6/2020). Bisnis - Abdurachman
Pengunjung melintas di depan papan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (24/6/2020). Bisnis - Abdurachman

Bisnis.com, JAKARTA — Tiga calon penghuni baru Bursa Efek Indonesia siap melakukan pencatatan perdana pada pekan kedua Juli 2020 di tengah ketidakpastian yang masih melanda pasar modal dalam negeri.

Ketiga perusahaan yang akan melakukan penawaran umum perdana saham adalah PT Pakuan Tbk. (UANG), PT Pradiksi Gunatama Tbk. (PGUN), PT Boston Furniture Industries Tbk. (SOFA)

Pakuan akan melakukan intial public offering (IPO) di BEI pada Senin (6/7/2020), dan menjadi emiten baru ke-30 pada 2020. PT Sinarmas Sekuritas bertindak sebagai penjamin pelaksana efek.

Pakuan menawarkan sebanyak 275 juta unit lembar saham dengan harga perdana Rp125. Dengan demikian, total nilai penawaran umum perdana saham tersebut senilai Rp34,375 miliar.

Sebelum penawaran umum, PT Sawangan Investasi Indonesia menjadi pemegang saham mayoritas Pakuan dengan porsi kepemilikan 91,88 persen. Adapun, Badan Usaha Milik Daerah Pemerintah DKI Jakarta memegang 2,69 persen.

Adapun, Pakuan mengakui pendapatan dari tiga sumber utama yakni pendapatan dari golf, pendapatan dari operasi hotel, dan pendapatan dari kolam renang.

Perseroan mengungkapkan dana yang diperoleh dari hasil penawaran umum perdana saham akan dipergunakan untuk menambah modal kerja proyek Sawangan Lake View.

Rincian penggunaan dana yakni launching event dan promosi awal 4,70 persen, biaya pembangunan area komersial 25,39 persen, dan biaya pembangunan fasilitas penunjang 69,91 persen.

Calon emiten lainnya yang siap melakukan pencatatan perdana saham di BEI yakni PT Boston Furniture Industries Tbk. pada 7 Juli 2020. Perseroan akan mulai melakukan prosesi IPO pada Selasa (7/7/2020).

Boston akan menawarkan sebanyak 400 juta lembar saham dengan harga perdana Rp100. PT Danatama Makmur Sekuritas bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek.

Adapun, tujuh sekuritas bertindak sebagai penjamin emisi efek yakni PT Henan Putihrai, PT Mirae Asset Sekuritas, PT Surya Fajar Sekuritas, PT Reliance Sekuritas, PT Onix Sekuritas, PT Panin Sekuritas Tbk., PT NISP Sekuritas, dan PT KGI Sekuritas.

Sementara itu, emiten perkebunan kelapa sawit, Pradiksi Gunatama, akan melakukan pencatatan perdana di Bursa Efek Indonesia pada Selasa (7/7/2020).

Berdasarkan prospektus ringkas perseroan, Pradiksi Gunatama menawarkan 900 juta lembar saham baru atau 18 persen dari jumlah seluruh modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Harga penawaran perdana di banderol senilai Rp115.

Dengan demikian, nilai penawaran umum perdana saham Pradiksi Gunatama senilai Rp115 miliar. PT Investindo Nusantara Sekuritas menjadi penjamin pelaksana emisi efek dan PT Panin Sekuritas Tbk. serta PT Panca Global Sekuritas sebagai penjamin emisi efek.

Perseroan mengungkapkan saat ini menjalankan usaha perkebunan kelapa sawit mencakup usaha perkebunan mulai dari kegiatan pengolahan, penyemaian, pembibitan, penanaman, pemeliharaan, dan pemanenan buah kelapa sawit.

Adapun, kegiatan usaha penunjang yang dimiliki yakni konstruksi gedung industri serta aktivitas pelayanan kepelabuhanan laut.

Pradiksi memiliki perkebunan sawit seluas 22.586 hektare (Ha) yang berlokasi di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Luas area tanam 12.869 Ha dengan tanaman yang telah menghasilkan seluas 11.669 Ha, tanaman belum menghasilkan 1.200 ha, tidak dapat ditanam 3.725 Ha, dan yang masih dapat dikembangkan 5.993 Ha.

Adapun, perseroan telah memiliki pabrik kelapa sawit (PKS) yang telah beroperasi sejak Agustus 2019. Kapasitas yang dimiliki sebesar 60 ton perjam dan dapat ditingkatkan menjadi 90 ton perjam atau setara sekitar kurang lebih 100.000 ton MKS per tahun.

Rencananya, dana yang dihimpun dari IPO akan digunakan sebesar 40 persen untuk belanja modal pembangunan infrastruktur. Sisanya, 60 persen akan digunakan untuk modal kerja yakni pembelian pupuk, TBS, dan operasional lainnya.

BEI mencatat sebanyak 28 emiten telah melakukan pencatatan perdana saham hingga akhir semester I/2020. Harga saham beberapa penghuni baru mampu tancap gas hingga ratusan persen setelah resmi melantai.

Berdasarkan data Bloomberg, harga saham PT Metro Healthcare Indonesia Tbk. (CARE) telah menguat 201,0 persen ke level Rp310 hingga akhir sesi Senin (29/6/2020). Perseroan resmi melantai pada 13 Maret 2020 dan masuk ke papan pencatatan pengembangan.

BEI mencatat CARE menduduki peringkat keempat movers indeks harga saham gabungan (IHSG) periode berjalan 2020. Kapitalisasi pasar perusahaan penyedia layanan kesehatan itu mencapai Rp10,37 triliun hingga penutupan Jumat (3/7/2020).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa efek indonesia ipo Aksi Korporasi
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top