Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

The Fed Intens Serap Surat Utang, Pasar Waswas

Selama tiga bulan terakhir, Fed telah melakukan aset yang meliputi utang pemerintah, utang hipotek, dan utang korporasi.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 01 Juli 2020  |  19:48 WIB
Gedung bank central Amerika Serikat atau The Federal Reserve di Washington, Amerika Serikat, Selasa (13/8/2019). Bloomberg - Andrew Harrer
Gedung bank central Amerika Serikat atau The Federal Reserve di Washington, Amerika Serikat, Selasa (13/8/2019). Bloomberg - Andrew Harrer

Bisnis.com, JAKARTA - Pasar mulai mengkhawatirkan keterlibatan intens Federal Reserve dalam menopang stabilitas sistem keuangan AS.

Langkah Federal Reserve (Fed) tersebut tampak seperti 'mandat ketiga', selain tugas utamanya menjaga stabilitas harga dan menjaga tingkat pekerja di AS. Banyak investor telah menyampaikan perhitungannya terkait dengan keterlibatan The Fed di pasar keuangan tersebut.

"Fed telah menopang pasar dan [upaya] itu telah dilengkapi dengan kebijakan moneter," kata Kepala Strategi Pasar Prudential Quincy Krosby.

Investor mungkin tidak menyukai kenyataan ini dan menganggap Fed telah memadamkan konsep kapitalisme. "Tetapi bank sentral menolak untuk membiarkan kekuatan pasar mengambil alih. Mereka tidak ingin kehancuran total ekonomi dan pasar," tambah Krosby.

Scott Minerd, Kepala Investasi Guggenheim Investments, sangat vokal dalam keberatannya. Dia mengkhawatirkan adanya pengelembungan ekstrim dalam pasar obligasi korporasi akibat keterlibatan Fed.

Peter Gailliot dari BlackRock Inc. mengatakan bahwa Fed telah melewati beberapa batasan dan memperingatkan tentang potensi moral hazard.

Beberapa analis dan ekonom khawatir bahwa pemulihan pasar saham mungkin mengurangi langkah-langkah stimulus fiskal lebih lanjut dari Washington.

Tetapi Krosby berpendapat bahwa segala sesuatunya bisa sangat berbeda jika The Fed menyingkir. "Anda berdagang di pasar yang Anda miliki, bukan yang Anda inginkan," kata Krosby seperti dilansir Bloomberg.

"Ya, itu menciptakan perusahaan zombie tetapi juga membuka pasar kredit, dan itu kunci untuk masa depan."

Fed, sesuai dengan Undang-Undang tahun 1977, diberikan mandat terkait dengan penciptaan lapangan kerja maksimum, stabilisasi harga dan penetapan suku bunga jangka panjang yang moderat.

Kini, bank sentral AS tersebut dibebani oleh Kongres AS terkait dengan tugas melakukan stabilitas keuangan.

Selama tiga bulan terakhir, Fed telah menyuntikkan lebih dari US$3 triliun ke pasar keuangan, dua kali lipat dari jumlah yang dihabiskan selama krisis keuangan global. Injeksi ke pasar tersebut dilakukan melalui pembelian aset yang meliputi utang pemerintah, utang hipotek, dan utang korporasi.

Dilansir oleh World Socialist Web Site yang mengutip Wall Street Journal, program pembelian utang perusahaan dimulai pada 12 Mei 2020. Sejak periode tersebut, Fed telah membeli aset-aset ini dengan nilai mencapai US$ 300 juta per hari. Program ini masih diperpanjang.

Fed akan menambah portofolionya dengan secara langsung membeli surat utang masing-masing perusahaan di pasar sekunder selama obligasi mereka jatuh tempo dalam waktu lima tahun dan memiliki peringkat kredit setidaknya BBB- atau Baa3.

Namun, persyaratan peringkat ini dilonggarkan karena banyak perusahaan yang mengalami penurunan peringkat kredit

Dengan pelonggaran komitmen tersebut, the Fed akan membeli banyak obligasi sampah (junk bond).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

intervensi pasar the fed
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top