Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Mal Kembali Dibuka, Penjualan Emiten Ritel Mulai Menggeliat

Pembukaan kembali pusat perbelanjaan di Jakarta suda berlangsung sepekan. Kendati evaluasi operasional masih terlalu dini, emiten ritel menyebut penjualan sudah mulai positif.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 24 Juni 2020  |  05:00 WIB
Lippo Mall Kemang - Laman LippoMalls
Lippo Mall Kemang - Laman LippoMalls

Bisnis.com, JAKARTA – Bak mendapat darah segar, sejumlah emiten ritel mulai menunjukkan tren positif setelah pusat perbelanjaan kembali dibuka lebih dari sepekan yang lalu. Tren ini diharapkan bisa terus berlanjut sehingga bisa memulihkan kinerja yang sempat lesu akibat pembatasan sosial.

Di Jakarta, sebanyak 80 pusat perbelanjaan sudah dibuka sejak 15 Juni 2020. Mal boleh beroperasi dengan sejumlah ketentuan seperti batasan jumlah pengunjung dan penerapan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran virus corona (Covid-19). Secara umum, tingkat kunjungan mal di DKI Jakarta menurut Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta baru mencapai 30-40 persen.

Emiten ritel gawai dan aksesoris PT Erajaya Swasembada Tbk. (ERAA) menyatakan tren penjualan selama sepekan terakhir memang cukup positif. Wakil Direktur Utama Erajaya Hasan Aula mengatakan walaupun masih terlalu dini untuk mengukur kinerja dalam hitungan pekan, tren penjualan mulai menampakkan hasil positif.

“Mal baru mulai buka tgl 15 Juni, jadi masih awal (memperkirakan kinerjanya). Tapi melihat trennya cukup positif dan memang yang penting kita harus menjalankan protokol Covid-19 yang ketat sesuai anjuran pemerintah,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (23/6/2020).

Selain Erajaya, emiten lain yang kembali beroperasi seiring pembukaan mal adalah PT Duta Intidaya Tbk. (DAYA) dan PT Matahari Department Store Tbk. (LPPF). 

Direktur Duta Intidaya Sukarnen Suwanto mengatakan pihaknya belum bisa menilai tren operasional dalam kurun waktu satu pekan. Pengelola gerai farmasi dan kecantikan Watson ini menyebut evaluasi operasional baru bisa dilakukan pada pertengahan bulan ini. 

“Terlalu awal, baru satu minggu berjalan. Ritel memang tidak bisa dilihat dari pola 1 – 2 minggu,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (22/6/2020).

CEO Matahari Terry O’Connor mengatakan pembukaan kembali gerai Matahari di Indonesia telah dimulai secara bertahap dengan pengoperasian 24 gerai di awal Mei dan mencapai 95 gerai pada saat Lebaran.

Dia menjabarkan, hingga 16 Juni 2020, gerai Matahari yang dibuka telah mencapai 141 dari total 153 gerai.Selama fase pembukaan kembali ini, Matahari telah diperiksa oleh otoritas setempat sebanyak 133 kali dengan tingkat kepatuhan 100 persen.

Emiten Grup Lippo tersebut juga menyatakan akan membuka lagi gerainya di Bogor, Jawa Barat yang akan menambah jumlah gerai yang beroperasi jelang pelonggaran pembatasan sosial berskala besar di kawasan tersebut.  

Saat ini, perseroan tengah memprioritaskan untuk membantu rantai pasokan dengan secara bertahap meningkatkan pasokan produk lokal yang tidak bisa didapatkan selama periode pembatasan sosial yang dikarenakan alasan keamanan.

Di lain pihak, jumlah kunjungan ke pusat perbelanjaan mulai meningkat secara bertahap. Berdasarkan laporan riset Mirae Asset Sekuritas, konsumen dengan penghasilan menengah ke atas sudah mulai berbelanja barang-barang non-esensial.

Sementara itu konsumen berpenghasilan menengah ke bawah masih enggan membelanjakan uangnya untuk barang-barang yang belum terlalu penting. Simpulan ini didapat setelah sekuritas melakukan analisis lapangan ke beberapa pusat perbelanjaan seperti Central Park, Kota Kasablanka dan City Plaza Jatinegara.

Head of Research Mirae Asset Sekuritas Hariyanto Wijaya mengatakan bahwa pengunjung mall Central Park dan Kota Kasablanka sudah mulai ramai secara bertahap. Total pengunjung pusat perbelanjaan tersebut setidaknya berkisar 60-70 persen dari total pengunjung sebelum pandemi Covid-19.

“Kami juga memperhatikan bahwa orang-orang berpenghasilan menengah ke atas secara bertahap mulai berbelanja aksesoris olahraga, tas, peralatan elektronik, dan pakaian,” tulis Hariyanto dalam risetnya, Selasa (23/6/2020). 

Para pengunjung tersebut, lanjutnya, rela menunggu dalam sebuah antrian panjang untuk memasuki toko ritel seperti Zara, Sport Stations, H&M, Erafone, Apple Store, dan Pull & Bear, serta membeli minuman yang cukup merogoh kocek.  

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

mal erajaya swasembada
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top