Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Saham Buyung Poetra (HOKI) Melonjak 2 Persen Lebih, Bagaimana Prospeknya?

Pada perdagagan sesi I Kamis (11/6/2020), saham HOKI ditutup naik 2,36 persen atau 15 poin menjadi Rp650. Harga sempat meluncur ke zona merah pada awal perdagangan, tetapi kemudian berhasil rebound.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 11 Juni 2020  |  13:13 WIB
Direktur Utama PT Buyung Poetra Sembada Tbk (BPS) Sukarto Buyung (dari kiri) bersama Komisaris Utama Jonathan Jochanan, dan Senior Vice Presiden Corporate Finance PT RHB Securities Indonesia Bernandus Sumarco, meninjau aktivitas Penawaran Umum Saham Perdana BPS , di Jakarta, Kamis (15/6). - JIBI/Endang Muchtar
Direktur Utama PT Buyung Poetra Sembada Tbk (BPS) Sukarto Buyung (dari kiri) bersama Komisaris Utama Jonathan Jochanan, dan Senior Vice Presiden Corporate Finance PT RHB Securities Indonesia Bernandus Sumarco, meninjau aktivitas Penawaran Umum Saham Perdana BPS , di Jakarta, Kamis (15/6). - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA – saham emiten beras PT Buyung Poetra Sembada Tbk.(HOKI) berhasil rebound 2 perse lebih setelah sempat melesu seiring dengan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Pada perdagagan sesi I Kamis (11/6/2020), saham HOKI ditutup naik 2,36 persen atau 15 poin menjadi Rp650. Harga sempat meluncur ke zona merah pada awal perdagangan, tetapi kemudian berhasil rebound.

Total transaksi saham produsen beras bermerek Topi Koki ini mencapai Rp15,14 miliar. Kapitalisasi pasarnya sejumlah Rp1,55 triliun. Namun, sepanjang tahun berjalan saham HOKI masih melorot 30,85 persen.

Dari sisi fundamental, perusahaan membukukan kenaikan pendapatan 13 persen secara tahunan menjadi Rp450,38 miliar pada kuartal pertama tahun ini.

Dikutip dari laporan keuangan interim perseroan per 31 Maret 2020, pertumbuhan pendapatan nyatanya tidak diikuti dengan kenaikan laba. Pasalnya, laba bersih perseroan terkontraksi 42,43 persen year-on-year menjadi Rp14,67 miliar.

Memang, produsen beras dengan jenama Topi Koki tersebut tak bisa mengelak dari kenaikan beban penjualan sebesar 18,04 persen menjadi Rp405,31 miliar, dibarengi dengan beban umum administrasi dan beban penjualan yang masing-masing naik sebesar 18,57 persen dan 8,34 persen.

Walhasil, perseroan hanya bisa membagikan laba per saham atau earning per share sebesar Rp6, menurun dibandingkan dengan perolehan periode yang sama tahun sebelumnya yakni Rp11.

Emiten berkode saham HOKI itu juga mencatatkan kenaikan total liabilitas dan total ekuitas masing-masing 11,11 persen menjadi Rp230,12 miliar dan 2,71 persen menjadi Rp658,93 miliar jika dibandingkan dengan periode akhir tahun lalu.

Hal ini membuat perseroan memiliki total aset sebesar Rp889,05 miliar, naik 4,76 persen dibandingkan akhir tahun 2019.

Adapun, kas dan setara kas akhir periode perseroan turun 91,63 persen dibandingkan dengan periode triwulan pertama tahun lalu menjadi Rp2,42 miliar diakibatkan membengkaknya kas yang digunakan untuk aktivitas investasi.

Sebelumnya, Investor Relations Buyung Poetra Sembada Dion Surijata menyebutkan perseroan memang menargetkan penambahan kapasitas dari pabrik baru di Sumatera Selatan yang memiliki kapasitas 2 x 20 ton per jam.

Pada tahap pertama, pabrik dengan kapasitas 20 ton per jam diharapkan selesai tahun 2021 dan sisanya diprediksi akan selesai tahun 2022.

Bercermin dari pemantauan di lapangan, Mirae Asset Sekuritas ikut prihatin dengan permintaan beras dari pasar tradisional karena banyaknya warung makan yang berhenti beroperasi sejak pemberlakukan pembatasan sosial berskala besar atau PSBB.

Analis Mirae Asset Sekuritas Andy Wibowo Gunawan menyatakan warung-warung makan merupakan pendorong permintaan beras di pasar tradisional, meskipun tidak ada angka rinci yang menyebutkan hal tersebut.

“Kekhawatiran lain adalah pekerja sektor informal Indonesia yang akan mengalihkan konsumsi beras mereka dari beras premium ke beras menengah karena banyak PHK,” tulis Andy dalam risetnya, Rabu (10/6/2020).

Sementara itu, dia menimbang bahwa kenaikan permintaan beras HOKI hanya datang dari bulan puasa dan perayaan Idul Fitri pada kuartal kedua tahun ini.

“Kami mempertahankan estimasi pendapatan untuk tahun 2020 dan 2021 dengan target harga sebesar Rp1.140. HOKI saat ini diperdagangkan pada price-to-earning ratio 12,4 kali dan 11,9 kali masing-masing untuk tahun 2020 dan 2021,” jelasnya.  

Sekuritas menggunakan metodologi campuran yakni discount cash flow dan price-to-earning ratio mempertimbangkan bahwa estimasi pendapatan HOKI akan lebih mudah diprediksi ke depan.

Risiko penurunan target harga sekuritas tersebut adalah harga bahan baku yang lebih tinggi dan perubahan regulasi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

saham rekomendasi saham Buyung Poetra Sembada
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top