Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Mirae Asset Pertahankan Rekomendasi Beli Saham Telkom (TLKM)

Mirae mempertahankan rekomendasi beli untuk saham TLKM dengan target harga Rp4.960. Rekomendasi ini yang diperoleh dengan menggunakan penilaian Discounted Cash Flow (DCF).
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 03 Juni 2020  |  14:12 WIB
Tampilan aplikasi Spekun di smartphone pengguna solusi bike sharing di Universitas Indonesia (UI). Aplikasi ini memanfatkaan layanan Narrow Band-Internet of Things PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel). - dok. Telkomsel
Tampilan aplikasi Spekun di smartphone pengguna solusi bike sharing di Universitas Indonesia (UI). Aplikasi ini memanfatkaan layanan Narrow Band-Internet of Things PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel). - dok. Telkomsel

Bisnis.com, JAKARTA — PT Mirae Asset Sekuritas merekomendasikan beli untuk saham PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. seiring dengan kinerja perseroan yang diperkirakan akan menanjak hingga akhir tahun ini.

Pada kuartal terakhir tahun lalu, emiten berkode TLKM tersebut membukukan laba bersih sebesar Rp2,2 triliun, menyusut 42 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Menyusutnya bottomline perseroan tersebut lebih disebabkan oleh penurunan nilai aset investasi sebagai buntut dari anjloknya harga saham. Sebab pada Q4/19, pendapatan Telkom naik 4,3 persen yoy, yakni sebesar Rp32,9 triliun.

Analis Mirae Asset Sekuritas Lee Young Jun mengatakan pertumbuhan pelanggan dan trafik yang dicatat TLKM terus bertumbuh. Tercatat, per kuartal IV/2019 jumlah pelanggan TLKM meningkat 5 persen yoy dengan ARPU (average revenue per user) lebih tinggi dari Rp46.000.

“Dengan meningkatnya pelanggan dan teknologi canggih yang digunakan perseroan, lalu lintas data melonjak sebesar 49,6 persen yoy di kuartal IV/2019,” ujarnya dalam publikasi yang diterima Bisnis, Rabu (3/6/2020)

Lee mengatakan meski dari sisi operasional kinerja TLKM sesuai dengan perkiraan mereka sebelumnya, pandemi Covid-19 yang terus berkepanjangan membuat pihaknya memangkas proyeksi pendapatan sebanyak 2 persen.

Menurutnya, pada paruh pertama tahun ini, peningkatan penggunaan saluran digital serta peningkatan lalu lintas data TLKM memang terpantau naik. Namun di saat yang sama persaingan terus berlangsung dengan perang paket unlimited di tengah pandemi Covid-19.

“Kami melakukan penyesuaian dengan proyeksi kami. Proyeksi terpaksa dipangkas karena tahun ini TLKM tak mungkin memberlakukan kenaikan tarif sehingga proyeksi pendapatan yang sebelumnya kami buat tak akan tercapai,” tutur Lee.

Meskipun tak ada kenaikan tarif, dia menyebut bahwa pendapatan data masih menjadi penopang utama pertumbuhan top line perseroan pada tahun 2020 ini.

TLKM sendiri tak banyak membeberkan rencana kerjanya untuk tahun ini. Perseroan hanya menyebut bahwa mempertahankan pangsa pasar pendapatan adalah kunci untuk TLKM dan fokus mereka untuk tahun 2020 adalah pada segmen bernilai tinggi serta meningkatkan ARPU.

Perseroan juga sempat menyebut bahwa mereka akan mempertahankan alokasi belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar 25 persen dari total pendapatan. Adapun capex tersebut akan digunakan untuk menopang kebutuhan kapasitas (jaringan 4G), investasi di pusat data, dan lain-lain.

“TLKM juga pernah menyiratkan bahwa penambahan pelanggan Indihome akan merosot ke kisaran 700.000 dan kemungkinan mereka tak mampu melaksanakan seluruh program yang sudah direncanakan sebelumnya,” tulis Lee.

Pada 2019, TLKM berhasil menambah 1,9 juta pelanggan baru dengan ARPU dari Rp244.000, turun dari Rp265.000 pada 2018. Penurunan ARPU sebagian besar disebabkan oleh lebih banyak pelanggan bermain ganda dan promosi yang ditawarkan kepada pelanggan di area tertentu.

Namun, dalam periode yang sama margin EBITDA perseroan melonjak menjadi 33,9 persen pada 2019 dari 25,6 persen pada 2018.

Lebih lanjut Lee menuturkan, TLKM berupaya untuk memotong biaya pada tahun 2020 sebagai cara mempertahankan profitabilitasnya. TLKM akan mengelola biaya personil dan G&A, serta biaya pemasaran.

"Berkat digitalisasi, TLKM kemungkinan akan mengurangi biaya pemasaran dengan mengubah saluran tradisional menjadi saluran digital. Selain itu, pengurangan pajak perusahaan untuk perusahaan terbuka akan mendukung bottom line pada tahun 2020,” tuturnya.

Secara keseluruhan, Lee masih mempertahankan rekomendasi beli untuk saham TLKM dengan target harga Rp4.960. Rekomendasi ini yang diperoleh dengan menggunakan penilaian Discounted Cash Flow (DCF).

“Kami percaya TLKM adalah salah satu perusahaan yang akan terkena dampak negatif paling sedikit oleh COVID-19, sehingga memberikan pertumbuhan top-line yang stabil. Harga target kami menyiratkan FY20F EV / EBITDA 7,6 kali, berdasarkan estimasi EBITDA kami,” tutupnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

telkom rekomendasi saham telekomunikasi indonesia
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top