Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Aljazair Usulkan Percepatan Rapat Menteri OPEC, Mengapa?

Aljazair mengusulkan rapat menteri OPEC dipercepat menjadi 4 Juni 2020, dari jadwal semula pada 9-10 Juni. Apa alasan percepatan ini?
Annisa Margrit
Annisa Margrit - Bisnis.com 31 Mei 2020  |  08:19 WIB
Pengeboran minyak lepas pantai. - Bloomberg
Pengeboran minyak lepas pantai. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA — Aljazair mengusulkan percepatan jadwal rapat menteri Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) menjadi 4 Juni 2020, sehingga dapat memudahkan komunikasi jika ada perubahan terkait pengiriman minyak dari para produsen global.

Aljazair sedang menjabat sebagai pimpinan OPEC, sebuah jabatan yang dirotasi di antara negara-negara anggotanya. Adapun jadwal pertemuan yang ditetapkan sebelumnya adalah pada 9-10 Juni.

Bloomberg melaporkan Minggu (31/5/2020), Menteri Energi Aljazair Mohamad Arkab mengirimkan pesan usulan tersebut melalui grup WhatsApp kepada para menteri energi anggota OPEC. Dia menyatakan perubahan jadwal akan memudahkan para produsen emas hitam itu untuk memberitahu pelanggannya jika ada perubahan mengenai pengiriman.

Para produsen dan pembeli minyak umumnya menyepakati berapa banyak minyak mentah yang akan dikirimkan pada bulan berikutnya. Menurut sumber Bloomberg yang tidak disebutkan identitasnya, rapat menteri OPEC yang lebih awal akan memungkinkan para produsen untuk mempertimbangkan berbagai kebijakan baru ke dalam kesepakatan itu.

Namun, jika usulan ini diterima, maka jadwal pertemuan komite, yang biasanya digelar sebelum rapat menteri, juga akan berubah. Dewan Komisi Ekonomi OPEC dijadwalkan diselenggarakan pada 2-3 Juni, sedangkan Komite Teknis Bersama yang membahas implementasi pemangkasan produksi sebelumnya ditetapkan pada 5 Juni.

Saat ini, negara-negara OPEC dan mitranya telah sepakat untuk menurunkan produksi hingga 9,7 juta barel per hari (bph) atau sekitar 10 persen dari pasokan global. Adapun Arab Saudi dan negara-negara produsen di Teluk menambah pemangkasan lebih dari 1 juta bph.

Kesepakatan saat ini memungkinkan OPEC dan mitranya untuk merelaksasi pemotongan produksi menjadi sekitar 8 juta bph. Namun, dengan harga minyak yang masih belum menjauh dari US$35 per barel, jauh di bawah pengeluaran pemerintah yang harus ditutup oleh negara-negara OPEC, pemangkasan produksi lebih jauh masih mungkin terjadi demi mengangkat harga.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

minyak opec

Sumber : Bloomberg

Editor : Annisa Margrit
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top